Review Novel Ayah Karya Andrea Hirata

 Hi, readers. Senang sekali rasanya ketika bisa menyiapkan sebuah bacaan yang berhasil membuat kita merasakan berbagai rasa dari bacaan tersebut. Kali ini, aku ingin mereview sebuah novel dari seorang penulis yang cukup famous di Indonesia. Bahkan, menjadi sastrawan Indonesia yang go internasional. Siapa lagi kalau bukan Andrea Hirata. Penulis asal Bangka Belitung ini telah membuatku haha hihi, nangis bahkan marah sendiri. Tenggelam dalam ramuan diksinya sejak tahun 2011. Dengan novel Laskar Pelangi-nya.

Setelah menamatkan beberapa novelnya dan juga mengoleksinya. Beberapa bulan yang lalu. Bahkan, hampir setengah tahun. Aku mengantri salah satu novelnya di Ipusnas. Lama sekali menunggu, tetapi tiba-tiba masuk notifikasi bahwa novel Ayah telah tersedia beberapa menit yang lalu. Segera mendownload lalu membacanya dengan penuh takjub.



Aku rasa, bukan hanya aku yang merasa perasaan yang campur aduk saat membaca novel Ayah ini. Semua orang pembacanya di seluruh dunia pun mengalaminya. Ya ‘kan?

Berhari-hari, ah tidak sampai berhari-hari. Hanya tiga hari. Aku sudah menyelesaikan novel setebal 412 halaman itu. Rasa leganya, membuat aku gatal tangan segera mengetik review tentang novel ini. Agar orang lain juga tahu. Betapa magicnya kekuatan seorang penulis dalam meramu diksi-diksi dan plot yang indah.

Novel ini masih berlatar pulau Belitung. Seperti beberapa novel lainnya. Tapi, kisahnya tidak lagi berhubungan dengan Laskar Pelangi. Nama-nama tokohnya sudah sesuatu yang berbeda. Hanya saja, kesan rumornya mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal. Juga nama-nama tokoh yang kerap menunjukkan orang-orang Melayu Belitung.

Oke cus simak sampai habis.

Dalam novel ini, Tokoh utamanya adalah Sabari. Dia seperti namanya, sangat sabar. Sabar terhadap perasaannya fantastis. Ah, cintanya untuk Marlena yang tulus sampai ajal menjemputnya.

Marlena salah satu perempuan yang membuat perasaannya tidak bisa berkompromi. Sabari merupakan seorang anak guru bahasa Indonesia yang bernama Isyafi. Ayahnya sangat pandai berpuisi. Bakat itu turun begitu sempurna pada Sabari.

Pada saat ujian masuk SMA. Seorang perempuan merebut soalnya tanpa aba-aba. Dialah Marlena, yang telah mampu membuatnya setengah gila. Tapi, kekuatan cinta yang tulus membuatnya berbuat sesuatu diluar batas logika. Dia begitu rajin, begitu tekun dan mampu menaklukkan ragam ujian. Meskipun demikian, entah berapa puisi dan surat telah ditulis. Cintanya ditolak mentah-mentah oleh Marlena.

“Majenun,” tanggap Marlena setiap kali mendapat surat dari Sabari.

Dia pernah berlari dari rasanya ke Tanjung Pandan. Berharap dengan bekerja paksa siang dan malam. Dia akan melupakan Marlena. Namun, justru sebaliknya, perasaannya kian kentara. Perempuan cantik berlesung pipi itu telah menyihir akal sehatnya. Membuat dua sahabatnya jengkel_____Tamat dan Ukun.

Waktu terus berlaju, hingga Sabari bekerja di perusahaan batako Markoni____Ayahnya Marlena. Pada suatu kesempatan, Sabari mendapatkan celah untuk memiliki Marlena. Marlena terkenal sangat nakal dan susah diatur. Dia berpacaran sana-sini. Hingga hamilpun dia sudah lupa anak siapa yang dia kandung. Sabaripun, dengan ikhlas menikahi wanita pujaannya itu_____Purnama dua belas.

Sabari membangun rumah yang sederhana, berharap di rumah itu. Dia akan tinggal dengan Marlena dan anaknya. Setelah melahirkan anak yang diberi Zoro. Tapi, Marlena hanya tinggal sebentar lalu minggat dari rumahnya. Ah, tidak mengapa Marlena minggat. Yang penting dia memiliki Zoro yang begitu dicintainya. Dia membesarkan Zoro seorang diri dengan penuh kasih sayang, mendongeng, bercerita dan berpuisi. Hingga Zoro berusia tiga tahun. Saat itu, Zoro sudah bisa memanggil Aya.

Tiba-tiba Marlena mengambil anaknya secara paksa dari Sabari. Sabari menjadi temenung, hatinya hancur. Selama delapan tahun, Sabari mengalami peningkatan stres hingga cukup parah. Dia sudah lalu lalang di pasar belantik tanpa bercelana.

Ukun dan Tamat adalah sahabat yang sangat luar biasa. Aku terharu di bagian kedua lelaki ini. Ukun dan Tamat merasa sangat kasihan terhadap nasip Sabari. Mereka menjajah seluruh kepulauan sumatera hingga ke Aceh untuk mencari Marlena dan Zoro. Dengan berpegangan pada surat-surat Marlena yang dikirimnya ke Zuraida____teman SMA mereka.

Marlena memiliki banyak sahabat pena di berbagai kota. Ukun dan Tamat mendatangi mereka semua. Juga mendatangi beberapa mantan suaminya. Nasip kedua sahabat Sabari kerap menyedihkan di masa-masa transisi pertualangan mereka. Tapi, keduanya bersikeras takkan pulang sebelum membawa Marlena dan Zoro.

Saat mendapat kabar bahwa Zoro akan segera pulang. Bagai kena magnet, Sabari segera pulang ke rumah. Mandi, memotong kumis dan rambut. Memperbaiki rumah yang sudah reyot. Dan membeli segala sesuatu untuk Zoro. Dan kembali menjadi waras seperti dulu. Bahkan dia tak sabar ingin memeluk Zoro anaknya.

Pertualangan dengan ibunya dari satu kota ke kota. Membuat Zoro tumbuh menjadi anak yang pintar. Dari setiap kota yang dia singgahi selalu ditulis puisi.

Setelah penantian selama delapan tahun. Akhirnya, Zoro kembali untuk ayahnya. Dan Marlena bersikap netral. Untuk Zoro bisa bersama Sabari.

Lantas bagaimana perasaan Sabari untuk Marlena? Tetap utuh seperti dulu saat pertama kali melihat Marlena. Dia membawa rasa cintanya yang besar untuk Marlena terkubur bersamanya.

Speechless, aku merasa sesuatu yang luar biasa. Cinta yang luar dari seorang yang sederhana untuk sempurna. Dari Sabari kita belajar, cinta memang kadang-kadang membuat kita gila. Dan cinta sejati tidak peduli terhadap penolakan.

Hanya ini yang dapat aku review dari novel Ayah. Sebenarnya ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel Ayah yang tidak mungkin aku tulis semuanya. Baiknya, bacalah hehehe.

Judul : Ayah

Jenis : Fiksi

Penulis : Andrea Hirata

Penyunting : Iman Risdianto

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2015

Tebal : 412


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer