Sepenggal Cerita di Pertengahan Februari


Pada sepuluh hari pertengahan Februari, aku mengalami semacam insomnia. Menurutku, insomnia kali ini sangat berlebihan jika sudah jam 1 belum bisa tidur dan itu berturut-turut. Pikiran kacau, menulis tidak fokus, membaca beberapa buku di rak Ipusnas juga rasanya malas sekali, karena harus menatap touchscreen bermenit-menit. (Karena pada dasarnya. Aku bukan tipe orang-orang yang suka baca ebook.)  Tidak ada makanan yang menarik untukku santap, di saat semua warga di desaku telah mendengkur di bawah selimutnya.
Aku bukan tipe orang sanggup tidak tidur. Bahkan, sedang kebelet sekalipun aku selalu menyempatkan tidur. Bagiku tidur nyenyak itu sesuatu yang mahal. Karena ada banyak orang susah tidur karena urusan Periuknya, urusan popok anaknya. Bahkan urusan hatinya.

Malam itu, aku memperhatikan sejumlah buku yang baru kutata rapi. Banyak buku menarik yang kubeli tiga bulan terakhir ini. Hasil dari setengah gajiku yang tidak seberapa. Membeli buku adalah cara aku memberikan penghargaan untuk diri sendiri. Karena selama ini bersabar menikmati bacaan gratis di perpustakaan. Atau melipir di toko-toko buku, hanya untuk membaca buku yang di buka di rak. Bukan untuk membeli. Bertahun-tahun, aku menyelesaikan banyak buku bacaan. Hanya 5% buku kepemilikan sendiri. Yang lain adalah buku umum di perpustakaan dan toko buku. Menurutku, membeli buku dengan uang hasil jeripayah sendiri adalah penghargaan untuk diriku sendiri.

Seminggu yang lalu, aku buntu.  Ideku ada tapi tidak bisa aku kembangkan. Tidur tidak bisa.  Mengobrolpun terasa tidak bisa nyambung dengan semua orang. Ada banyak sebenarnya bisa ku tulis. Cerpen dan opini yang sudah sedari Januari diminta oleh salah satu koran online. Dan belum satupun aku tulis, untuk mengisi rubrik koran tersebut. Padahal lumayan ada honornya wkwkkw. Eh, aku bukan orang yang sangat berusaha keras mengumpulkan nominal rupiah. Dan soal menulis, aku sedang berusaha belajar menulis hingga ada orang yang suka membacanya. Soal uang aku tidak terlalu memikirkan.

Kemudian, nah blog ini sudah lama tidak di update. Kemudian aku juga sebelumnya sudah menjadi autor di sebuah blog travel. Belum lagi, aku baru saja merunutkan novel baru. Ah, sok kali banyak projects tapi semuanya tak terasa tersentuh. Ternyata, benar seorang penulis hebatpun butuh jeda dalam menulis. Bahkan, para senior itu justru, menuntaskan satu-satu. Bukan main serabutan aja. Lho, kok penulis amatir sepertiku main dambrat-dambrat saja. Bisa-bisa suatu hari oleng beneran idenya, Khak.

Akhirnya terpikir, andai aku punya beberapa buku Andrea Hirata. Mungkin aku akan sangat terhibur dan tergugah dengan paragrafnya yang  kadang mendesirkan darah. Kadang membuat kita menumpahkan tawa yang renyah. Karena dia berhasil menyisipkan humor di plot-plotnnya.

Malam itu, akhirnya aku membuka kembali smartphone yang sedari tadi aku matikan daya. Bosan kulihat benda yang nyaris sangat kompleks kegunaannya saat ini. Aku menekan fitur Instagram. Aplikasi yang membuatku terhambat menulis. Karena jangkauannya sangat luas. Tapi di keheningan itu. Aku tidak berleha-leha melihat tokoh-tokoh vavoritku  tapi aku segera ke sebuah akun @mizanstore. Aku menekan link yang tertera di bio. Segera ditampilkan beranda website mizanstore. Aku segera mengetik sebuah nama. Nama seorang penulis yang telah membiusku dengan karya-karyanya. Andrea Hirata. Mataku terbelalak, membola seketika. Per buku ada diskon sampai 30%.  Ada beberapa bukunya yang belum kupunya. 

Ternyata, cara belanja di mizanstore mudah banget lho. Seperti di shoopee, lazada, dan marketplace lainnya. Buat akun terlebih dahulu, lalu masukkan alamat lengkapnya dan nomor HP dan email. Kemudian barang yang hendak kita pilih langsung masukkan ke keranjang dan chek out. Setelah itu ada opsi pengiriman yang mau kita pakai seperti POS kilat, JNE, Lion Parcel dan beberapa lainnya.  Kemudian langsung tertera jumlah yang harus kita bayar. 

Metode pembayarannya juga banyak opsinya, dari transfer Bank, via ATM, link, Alfamart dan beberapa yang lain. Kemudian kita diberi waktu 24 jam untuk menyelesaikan pembayaran. Untuk yang ada mobile banking gampang banget langsung transfer menit itu juga. Setelah itu akan masuk email. Untuk mereka memverikasi transaksi kita selama 24 jam. Kemudian, masuk email lagi. Mereka akan mengirim nomor resi. Berarti pesanan kita sudah dikirim.

Selama pengiriman kita bisa chek langsung secara online untuk melacak keberadaan barang tersebut. Bagiku, ini menyenangkan sekali dan sangat jauh dari perasaan takut barang hilang. Karena kita tahu dimana keberadaannya.

"Heiii, bukankah semuanya hari ini sangat mudah. Tapi kenapa pemikiran kita terasa sangat sempit. Aku yang tinggal di ujung Indonesia ini. Bisa langsung bertransaksi dengan mizanstore yang menjual buku-buku best seller. Semoga suatu hari bukuku aku terdaftar di sana."

Kali ini, aku beli dua buku yang cukup populer. Dan baru cetak ulang. Sebanyak tujuh karya Andrea Hirata baru saja di cetak ulang diantaranya Laskas Pelangi, Sang Pemimpi, Buku Besar Peminum Kopi,Ayah da Sirkus Pohon, Mozaik-Mozaik Terindah, Guru Aini dan Orang-orang biasa. 

Diantara ketujuh karya dari penulis best seller internasional ini. Yang belum aku belum baca Ayah dan Sirkul Pohon, Orang-orang biasa dan Buku Besar Peminum Kopi. Sebelumnya sudah cek ke Gramedia tapi stoknya kosong. Yang ada cuma Guru Aini. Hei, aku sudah punya, sudah 4 kali kubaca ulang. Satu naskahku ngalir deras idenya. Setelah mempelajari Novel Guru Aini. Eh tokoh Favorit aku di Guru Aini adalah Aini itu Sendiri. Nanti deh, aku review novel yang sudah  dibaca ribuan orang itu.

Malam itu, aku tidak sabar ingin membaca karya Andrea Hirata. Selain memang penasaran terhadap cerita yang heroik itu. Juga bagiku. Membaca adalah cara aku mengakhiri semacam galau, penat, otak buntu. Orang-orang biasa adalah novel yang paling kuincar karena itu trilogi dari Novel Guru Aini. Aku penasaran, bagaimana kisah sepuluh siswa Bu Desi yang duduk di deretan belakang. Bahkan namanya saja aku susah mengingatnya ;  Tohirin, Sobri, Honorun, Dinah, Rusip, Nihe, Junilah, Handai, Salud, dan Debut Awaluddin. Debut inilah tokohku di novel Orang-Orang Biasa.
Sosok debut yang sangat idealis. Mahir matematika luar biasa tapi dia tidak menamatkan SMA-nya karena tidak ada lagi teman-teman yang berada di deret belakang. Kelanjutannya, nanti ya! Setelah aku usai membacanya 😀

___
Selama lima hari setelah di nyatakan paket sudah dikirim melalui email oleh pihak Mizanstore. Aku setiap hari melacak nomor resi lewat cek resi Online. Aku tidak sabar menjamah buku dari penulis idolaku itu.

Sore ini, paketnya ku terima. Dan aku sudah melahapnya sebahagian. Aku menemukan sesuatu yang selama ini telah agak menjarak dariku. Tenang, aku kehilangan ketenangan entah tentang morat-marit hati. Entah karena kesenjangan sosial. Tekanan batin karena beberapa pertanyaan yang menyesakkan.Tapi, dengan membaca aku menemukan penawa. Aku Bagai dibuat sedang jatuh cinta. 

Marilah membaca untuk membuka jendela dunia yang tak belum sempat kau jamah. 

Sungai Mas 17 Februari 2020

Komentar

Postingan Populer