[Review Buku] Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur'an

 

Prakata : Buku Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an merupakan hadiah seorang teman saat aku selesai kuliah lalu memutuskan pulang kampung. Teman yang sudah kakak itu tiba-tiba memberikanku hadiah buku. Aku terharu, seumur hidup belum ada yang ngasih hadiah aku buku. Sebagai pencinta buku, tentu ini menjadi hadiah paling berharga dan tak ternilai harganya.

Setelah berbulan-bulan di kampung. Buku ini terus kubaca berulang-ulang. Sampai aku hafal alur cerita yang di tulis disetuap babnya. Buku ini, juga menjadi pemicu semangatku untuk kembali menggalakkan cita-citaku sejak berumur empat belas tahun. Aku mulai berpikir bahwa. Menjadi orang yang bermanfaat bisa dengan menulis. Seperti buku Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an. Para penulis antologi ini secara tidak langsung telah mengkampanyekan membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita yang diangkat menjadi begitu menginspirasi banyak orang.

Akupun mulai menulis, dan mencari kelas-kelas online untuk meng-upgrade diri. Maka bertemulah ODOP, NAC dan KMO. Yang telah menempa penaku agar terus mengalir hingga menghasilkan karya.

Oke cus baca sampai habis 




Judul : Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an  

Penulis : Salmiah Rambe, Salikah Azzariyyah, dkk. 

Tahun terbit : 2017

Penerbit Sygma Creatif Media Corp

Halaman : 253

Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an – merupakan sebuah buku antologi yang ditulis oleh empat perempuan. Mereka semua terdiri dari berbagai profesi. Dari dokter, guru, wakil rakyat, perawat, ibu rumah tangga. Mereka semua adalah wanita-wanita hebat yang berusaha menghidupkan Al-Qur’an di rumah dan dalam aktivitas sehari-hari.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi yang unik. Mampu menginspirasi dan memacu adrenalin kita semua untuk mengejar ketinggalan dalam membersamai diri dengan Alquran.

Jika ditanya apakah seorang perempuan karir bisa menghafal Alquran? Apakah seorang dokter bisa menghafal Al-Qur’an? Apakah seorang wakil rakyat bisa menghafal Al-Qur’an? Apakah seorang pengusaha bisa menghafal Al-Qur’an? Apakah seorang ibu rumah tangga bisa menghafal Al-Qur’an?

Jawabannya bisa.

Seorang Salmiah Rambe mampu menghafal Alquran di tengah kesibukannya melayani ummat. Karena seorang dokter Dwi Arum mampu mengahafal Qur’an di tengah-tengah kesibukan melayani pasien. Seorang Rini Inggriani sebagai pembina LSM masih sempat menghafal Al-Qur’an. Ibu rumah tangga yang konon paling sibuk ngurusin anak dan rumah. Tapi, semua wanita yang bergabung dalam antologi ini adalah ibu rumah tangga. Dan mereka mampu menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya.

Kadang aku memandang buku ini. Terbesit dalam hati. Kapan aku bisa ngehafal Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Padahal kesibukanku belum seberapa dibandingkan para ibu-ibu yang ada dala buku ini.

Apalagi manyoritas bukan berlatar belakang pendidikan pondok pesantren. Justru mereka hadir dari sekolah-sekolah umum, para sarjana pendidikan, teknik dan kesehatan. Tapi, yang hebatnya mereka hafal Al-Qur’an.

Mereka semua tidak hafal Alquran untuk menunjang karir. Tapi, sebagai kewajiban untuk membumikan Al-Quran dalam kehidupannya. Jika ingin anak hafal Al-Qur’an tentu mamak bapaknya dulu apakah sudah hafal Al-Qur’an? Mungkin keinginan kita agar anak hafal Al-Qur’an. Bisa menjadi Boomerang tersendiri bagi si orang tua. Apakah punya hafalan Alquran? Kalau tidak bagaimana bisa kita menuntut sesuatu yang tidak bisa kita wariskan dari kita sendiri.

Dari cerita-cerita ibu-ibu yang hebat ini. Aku juga merasa bahwa menghafal Al-Qur’an tidak ada kata terlambat. Dan menghafal Al-Qur’an bukan tugas anak-anak pesantren. Tapi tugas kita semua yang mengaku beriman kepada Alquran, menganggap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Kini menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. Seberapa sering kita beruntung dengan Alquran? Jangan-jangan kita lebih sering pegang gadget ketimbang Al-Qur’an? Bagaimana kita menghafal Al-Qur’an jika baca saja kita malas?

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan buku ini, seakan-akan kita diajak langsung merasakan hidup para perempuan-perempuan hebat ini. Apalagi semua ceritanya ditulis menggunakan POV 1, atau sudut pandang orang pertama. Pada halaman terakhir, buku ini juga ditambah dengan trik menghafal Al-Qur’an.

Kekurangan Buku Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an, sebagian ceritanya terasa monoton.

Saran

Buku Dalam Dekapan Mukjizat Al-Qur’an disarankan dibaca oleh semua orang yang ingin terpacu semangatnya dalam menghafal Al-Qur’an.


Komentar

Postingan Populer