Tugas Pekan Ke empat di Kelas ODOP
Cerpen Dari Gunung Omeh ke Jalan Lain di Moskow Menuju
Hukuman Mati di Kediri merupakan cerpen dari Cerpenis Nganjuk. Sekaligus penulis
terpilih di emerging Indonesia di Ubud Writers dan Reades Festival 2019. Tidak
lain yaitu pemilik nama pena Heru sng Amurwbumi. Bukan pertama kalinya aku baca
cerpen Pak Heru. Di setiap cerpennya selalu membuat perasaan campur aduk.
Seperti cerpen sejarah ini. Membuat siapapun ikut tegang. Karena dibuka dengan konflik
yang luar biasa. Apalagi latar belakang peperangan dalam idealisme bangsa.
Cerpen aslinya sangat memukau l, Di ngodop
Dari judulnya saja sudah cukup liar dan penuh tanda tanya.
Karena di sana hanya dikatakan dari Gunung Omeh ke Jalan Lain di Moskow Menuju
Hukuman Kematian. Tidak bisa ditebak apa yang dibahas dalam cerita ini.
Menerka-nerka, akan ada pertumbuhan darah di sana.
Cerpen ini berkisah tentang sesuatu yang tanpa disebut nama.
Namun, sosok lelaki yang menyendiri di gunung Wilis itu cukup patriot. Penulis
berhasil menunjukkan kepahlawanannya. Meskipun dianggap pembangkang oleh
negara. Dia terbunuh sia-sia di ujung senapan para tentara. Meskipun disesali
oleh tokoh 'aku' dalam cerita ini. Sebagai seorang kesatria dia merasa serba
salah saat harus menewaskan seorang Datuk yang sangat mencintai negeri ini.
Penulis memang sangat mahir dalam memainkan konflik sehingga
kita menemukan ragam misteri di balik kisah sosok Datuk tersebut. Serta
menjabarkan betapa tidak mudahnya mempertahankan idealisme saat itu. Karena
orang-orang yang haus kekuasaan akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan
orang-orang yang dianggap pemberontak. Meskipun pada hakikatnya itu benar..Saat
itu kita dilarang kritis. Hanya yang punya kekuasaan yang boleh menentukan suatu
kebijakan. Dan kebijakan yang telah ditetapkan tidak boleh diprotes.
Di tahun 2021 ini, di negeri ini masih banyak pemegang
tampuk kepemimpinan bersikap otoriter. Masyarakat tidak boleh mengkritik
kebijakan pemerintah. Kebebasan berpendapat juga dicegah dengan berbagai
undang-undang. Padahal negara ini adalah negara demokrasi yang memiliki
kebebasan berpendapat. Lantas haruskah pemikir-pemikir kritis tumbang dan
menghilangkan sebagai pemberontak di negeri ini?


Komentar
Posting Komentar