Terror In The Woods ; Sebuah Film Yang Sangat Direkomendasikan Untuk Para Orang Tua
Hi, happy reading !
Kali ini, aku pengen review sebuah film. Menurutku,film ini sangat bagus ditonton oleh para orang tua. Sebuah film yang berjudul ; Terror In The Woods.
Sebenarnya, aku bukan tipe penonton yang baik. Sejak masih sekolah, aku hanya menonton untuk mengetahui endingnya doang. Untuk sebuah film kadang aku hanya menghabiskan waktu lima menit. Tapi, akhir-akhir ini banyak yang saranin, " Kalau mau tulisanmu hidup. Sekali-kali nontonlah film yang bertemakan tulisanmu, tentang dunia anak-anak, pendidikan atau apa saja yang ingin kamu tulis."
Nah, dari dulu aku suka film-film yang berbau horror, thriller dan action. Aku mulai mencari film yang bisa buat aku betah menonton. Beberapa hari, yang lalu aku mendapat sebuah film yang keren banget menurutku.
Cuss, simak sampai habis ya.
Terror In The Woods merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Film ini menceritakan tentang dua remaja yang baru menginjak sekolah SMP di sebuah kota kecil Georgia. Kedua gadis itu bernama Rachel atau Ella West Jerrier dan Kaitlyn atau Shopie Grace.
Kedua remaja tersebut berumur 12 tahun. Mereka hidup bertetangga di sebuah kompleks perumahan. Di belakang kompleks perumahan mereka terdapat hutan yang indah. Kedua remaja ini sama-sama pendiam, tetapi memiliki selera yang sama. Kaitlyn mengaku berteman dengan Shopie atau bayi naga yang tak kasat mata. Tapi, ada yang lebih mengerikan. Kaitlyn dan Rachel sangat tertarik dengan sebuah monster yang mengajak anak-anak ke hutan. Monster itu bernama Suzerain. Bahkan, mereka sudah sangat terobsesi dengan monster itu.
Bagi orang tua mereka, Suzerain adalah hantu urban. Dan mereka juga merasa anak-anak mereka hanyalah kreatif. Seperti Kaitlyn yang pandai melukis monster-monster Suzerain itu.
Semua itu berawal dari kebebasan kedua remaja ini bermain internet. Nonton video online tanpa pengawasan orang tua. Sehingga Rachel dan Kaitlyn dipengaruhi video-video yang mereka tonton.
Rachel dan Kaitlyn percaya bahwa Suzerain mengikuti mereka dan membaca pikirannya. Tidak hanya itu, kedua remaja tanggung ini sangat percaya bahwa Suzerain akan membunuh keluarga mereka. Keduanya takut, itu semua akan terjadi. Berdasarkan video yang mereka tonton untuk menghindari semua itu. Mereka harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluarganya. Yaitu melakukan ritual berdarah. Dengan membunuh seseorang untuk tumbal Suzerain.
Salah satu yang menjadi korban mereka adala Emily (Skylar Morgan Jones), satu-satunya teman baik Kaitlyn sejak kecil. Cuma bagi Emily, Suzerain adalah kebohongan.
Seperti pada kebiasaannya di Georgia. Anak-anak remaja sering menginap di rumah temannya. Melakukan hal-hal yang menyenangkan. Tepat pada ulang tahun Kaitlyn. Rachel dan Emily tidur di rumah Kaitlyn. Sejak awal Rachel dan Kaitlyn berencana membunuh Emily dengan menekan bantal waktu dia terlelap. Tapi mereka tidak terjaga.
Keesokan harinya, misi mereka dilanjutkan. Mereka mengajak Emily bermain di hutan belakang kompleks perumahan. Sempat mendorong Emily ke danau tapi gagal tenggelam. Lalu, Rachel terus mendesak Kaitlyn untuk melakukan pembunuhan pada Emily. Akhirnya, Kaitlyn menusuk Emily dengan pisau, tusukan itu berkali-kali. Darah berlumuran di badan Emily. Gadis penyuka peri itu terus menangis, lalu Rachel dan Kaitlyn kabur untuk mencari Suzerain. Tapi Monster itu tak juga berjumpa dengan mereka. Kedua gadis itu ketakutan. Sempat saling menyalahkan. Namun, mereka berusaha untuk tetap menunggu Suzerain.
Emily selamat dari pembunuhan itu. Dia berjalan hingga ke danau, lalu jatuh ke danau kemudian ditemukan oleh seorang lelaki lalu dilarikan ke kantor polisi.
Dani dan Natan terkejut saat polisi mencari putrinya. Pun, mereka tidak tahu dimana Kaitlyn dan Rachel berada. Mereka terpukul karena tidak bisa mencegah Kaitlyn melakukan sesuatu hal diluar nalar. Tindak kekerasan yang mereka lakukan semuanya berawal dari keteledoran mereka sebagai orang.
Akhirnya, polisi menemukan mereka di sudut kota. Saat polisi mengatakan orang tua mereka baik-baik saja. Mereka barulah lega, karena Suzerain tidak menyakiti keluarga mereka seperti yang mereka yakini. Sebenarnya kedua remaja ini telah bermasalah dengan kejiwaannya, yang terlampau terobsesi dengan sesuatu. Sehingga berani melakukan semacam pembunuhan.
Hi, semuanya. Usia remaja adalah masa yang sensitif. Dan suka terhadap hal-hal yang baru. Dan diusia itu juga. Mereka kerap menjadi sesuatu yang mereka kagumi. Maka terlepas dari semua itu. Jangan pernah biarkan mereka berkembang dengan sendirinya. Berikan mereka kebebasan tapi tetap dibawah pengawasan. Dan di sini kita menitik beratkan pada pemberian smartphone, laptop yang terakses internet full day. Berkeliaran mereka dalam dunia virtual menyebabkan remaja tidak bisa memilah sesuatu yang tidak pantas untuk dikonsumsinya.
Terimakasih sudah baca sampai habis, semoga bermanfaat readers.




Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusWow... pada akhirnya semua enggak benar terjadi?
BalasHapusIkutan tegang bacanya 😅
BalasHapus