Secuil Tentang Desaku
Desaku, lanskap ini belum sampai ke desaku. Tepatnya di perbatasan Kecamatan Sungai Mas dan Kecamatan Panton Reu. Ada lima belas kilo meter perjalanan yang membentang hutan dan kebun sawit. Tidak ada rumah apalagi warung. Tikungannya tajam-tajam, berkelok-kelok.
Dulu, saat konflik. Daerah tersebut adalah tempat paling ekstrim untuk dilalui. Karena, para Kombatan atau tentara rentan melakukan kontak senjata di daerah sepi ini.
Bagiku lima belas kilo meter itu sangat menyebalkan. Kalau-kalau kita bocor kereta di sana, kalau-kalau kehabisan bensin. Terpaksa sepesa motor didorong maju atau mundur ke Desa Teumeuket Ranom (Tangkeh) atau ke desa Lancong.
Bagi yang mengalami mabuk perjalanan karena naik mobil. Tempat ini, kerap menguras isi perut si penumpang. Dari semenjak bus Haji Yusuf tahun 2000-an. Hingga sekarang kebanyakan yang sudah memiliki mobil pribadi. Bagi yang mengindap penyakit mabuk perjalanan. Tempat ini menjadi paling cepat merasakan mual-mual dan pening.
Tapi, sebagai penikmat keindahan alam. Aku sangat senang melihat alam yang terbentang luas sejauh mata memandang. Matahari yang terbit dan tenggelam. Jika musim kemarau matahari tenggelam nampak lebih nyata. Kita bisa melihat bagaimana meganya yang indah. Bergerak pelan-pelan, lampu hilang sempurna di balik hutan.
Baca juga Di mana sih Sungai Mas itu?
Aku ingat, bahwa ukuran matahari jauh lebih besar beratus kali dari bumi. Dulu, aku berpikir matahari setiap malam bersembunyi di balik gunung. Lalu, esoknya muncul lagi naik merangkak perlahan-lahan hingga sampai ke atas atap rumahku. Lalu, keesokannya lagi melakukan hal sama. Aku saat itu tidak tahu yang namanya rotasi.
Semoga dengan selalu memperhatikan keindahan alam bisa bertafakur dengannya. Agar bisa menambah syukur betapa maha besarnya kekuasaan Allah menciptakan alam semesta.
#odop



Komentar
Posting Komentar