[Sebuah Puisi] Terima kasih telah pergi
Dulu
Setiap helaan napas
Kau melintas tanpa jeda
Tanpa aba-aba.
Dulu, seluruh waktuku
Hanya persoal kamu
Dan kamu, tentangmu
Yang terjabar dengan berima dalam sanubariku.
Pernah, aku muntab
Kenapa harus kamu yang terpikir setiap waktu.
Kenapa harus kamu yang terlintas dalam benakku.
Kenapa selalu dan selalu tentangmu.
Tidak bisakah sedetik saja
Aku memikirkan priayi dunia
Aku benci dengan hatiku
Yang sepenuhnya memikirkanmu.
Tapi, benciku tenggelam oleh rasaku yang tajam.
Tidak bisa dikalahkan oleh apapun penawar.
Saat takdir telah bercerita yang sebenarnya.
Kau pergi tanpa meninggalkan luka
Menelantarkan hati yang sudah setengah kau kuasi.
Aku terpuruk.
Terjatuh sejatuh-jatuhnya.
Tak terbayangkan, aku bisa menjadi seperti hari ini.
Aku berjalan pelan-pelan
Meraba sesuatu yang jauh sesuatu yang lebih pasti
Aku yang sebenarnya aku tanpa kamu.
Kini baik-baik saja.
Waktu telah menunjukkan aku lebih kuat tanpamu.
Aku lebih cerdas tanpamu
Aku lebih waras tanpamu
Aku lebih baik tanpamu.
Di sini, di bawah langit yaang membentang.
Ingin ku sampaikan
bahwa aku
Baik-baik saja tanpamu.
Devarisma, 20092021


Komentar
Posting Komentar