[Sebuah Cerpen] Pemuda di Dalam L300
Aku mengedarkan seluruh pandangan keluar mobil. Lewat
jendela yang terbuka setengah, aku
menikmati pemandangan yang memukau. Hamparan laut biru dan juga jalan yang
berliku-liku. Lagu lawas yang diputar di MP3 mobil membuat aku tidak bisa tidur.
Entah kenapa MP3 mobil yang kutumpangi hari ini yang
cenderung memutarkan lagu-lagu lawas. Aku tipe orang yang suka tidur dalam
perjalanan. Tapi, tidak untuk siang ini. Mataku terbuka lebar menikmati
pemandangan yang disuguhkan kiri kanan.
Aku sedikit bernostalgia dengan lagu yang diputar. Tanpa sadar bibirku
mengikuti lirik lagu kisah kasih di sekolah.
Pemandangan di pantai barat selatan Aceh ini memang
dikenal dengan laut yang indah. Aku menyesali selalu tertidur di perjalanan.
Sehingga melewati pemandangan yang maha indah Tuhan ciptakan.
Aku menoleh ke kursi belakang. Semua penumpang tertidur
pulas.
“Hanya aku dan sopir yang masih terjaga,” pikirku.
Matahari sudah berada di atas ubun-ubun. Arloji
menunjukkan jam 13:00 WIB. Sopir selalu berhenti di musala yang ada warung
makan. Jadi, para penumpang bisa melaksanakan kewajiban salat dan menikmati
makan siang.
Semua penumpang turun dari mobil untuk membersihkan diri,
salat dan makan. Aku menghafal wajah-wajah penumpang yang hanya berjumlah tujuh
orang denganku. Dua laki-laki muda terlihat mereka seperti mahasiswa sepertiku
yang kembali ke kota Banda untuk kuliah. Dua lagi pasangan suami istri. Satu
orang lagi yang duduk tepat di belakangku sepertinya sudah berumah tangga.
Sempat aku mendengar dia berbicara lewat telepon, dia berbicara dengan anak
istrinya.
Satu penumpang yang terlihat kalem dan cukup tampan.
Kemeja yang dikenakan tersetrika rapi. Setengah lengan panjangnya dilipat.
Bajunya juga di masukkan ke dalam. Rambutnya yang lurus tersisir rapi. Jam
tangan hitam juga menghiasi lengannya
yang putih.
Tidak ada barang bawaan, dia hanya mencangklong sebuah
minibag di bahunya. Aku sempat mengira dia sales, atau pegawai kantoran,
atau pegawai di perusahaan. Selama di perjalanan dia hanya berdiam diri di
dekat jendela. Saat semuanya tertidur, aku sempat melihat dia juga terlelap di
kursinya.
Kala semua penumpang menikmati makan siang. Di sebuah rumah
makan paling fenomenal dengan masakan khas
Barat Selatan Aceh. Kebetulan, kali ini semua penumpang duduk di meja panjang.
Sehingga semua berkumpul menikmati makanan yang diambil sendiri di depan.
Aku memilih ikan sambal dan sayur asam. Di sampingku
ada yang memilih kerang lado, cumi tumis asam. Kami sesama penumpang menjadi
semakin akrab. Akhirnya, sopir juga bergabung ke meja panjang yang biasa
dipilih oleh rombongan keluarga.
“Adek sering berpergian sendirian?” tanya Ibu bermata
sipit itu. Beliau duduk di sampingku dengan suaminya.
“Iya, Bu,” sahutku sekenanya sembari memamerkan senyum
terbaik.
“Tidak takut bepergian sendiri-sendiri, Dek?” dia
menoleh sembilan puluh derajat kepadaku.
“Tidak, Bu. Kebetulan saya sudah langganan sama travel
‘bersaudara' ini,” jawabku lagi.
“Oh begitu, memangnya orang tuanya tidak khawatir anak
gadis pulang pergi sendirian?” pertanyaannya membuatku merasa tidak nyaman. Aku
masih terdiam.
“Apalagi adek duduk di depan dekat sopir! Sopir itu
kadang-kadang nakal, Dek!” serunya tiba-tiba sambil melihat kiri-kanan.
Aku tersenyum kecut, “Tidak, Bu. Sopir di dua saudara
terkenal baik-baik. Mereka tidak macam-macam sama penumpang. Saya bahkan sudah
setahun ini berlangganan di travel ini. Apalagi mereka selalu berhenti setiap
masuk waktu salat. Obrolan mereka juga sopan-sopan!” aku sedikit membela diri
dan para sopir. Memang bukan hal yang asing. Kalau sopir sering dianggap nakal
dengan penumpang perempuan, apalagi anak gadis sepertiku.
“Memangnya adek kenapa pulang pergi!” tanya Perempuan
yang mengenakan baju merah jambu dengan penutup kepala warna senada. Pakaiannya
cukup menunjukkan seorang muslimah.
“Saya kuliah di Banda setiap Sabtu Minggu. Senin
sampai Jum’at saya bekerja di Meulaboh,” jelasku.
“Oh begitu, jadi kerja apa di sana?” dia semakin
bersemangat menanyakan tentangku.
“Di hotel, Bu!” sahutku lagi. Aku yakin setelah
mendengar jawabanku. Perempuan berhijab lebar ini semakin negatif berpikir
tentangku. Karena bukan sekali dua. Orang-orang menunjukkan langsung pikiran
negatifnya terhadap pekerjaanku sebagai karyawan hotel.
“Memangnya orang tua kerja apa? Kok adek mau kerja di
hotel segala?” tanya dia lagi dengan wajah khawatir.
“Orang tua saya pegawai negeri, Bu. Saya hanya ingin
mandiri!” sahutku.
“Ya ampun, Dek. Kalau Ibu, tidak akan membiarkan anak
gadis sepertimu kerja di hotel!” serunya lagi tanpa memikirkan perasaanku yang sebenarnya
sudah sangat tersinggung.
“Memangnya kenapa, Bu. Kalau kerja di hotel. Saya
tidak merasa hal-hal yang aneh di sana. Kami di sana tidak memakan riba, juga
tidak menerima tamu-tamu yang bukan pasangan suami istri,” sahutku sedikit
detail.
“Iya, maksud ibu bukan begitu. Karena, melayani tamu
yang entah berantah dari mana. Seperti adek ‘kan perempuan kerja sampai tengah
malam. Gimana ya kurang baik!” sahut dia lagi. Dia berusaha keras untuk
menyudutkan pekerjaanku.
“Maaf, Bu. Di hotel tempat saya kerja atau di beberapa
penginapan lain perempuan hanya bekerja di shif siang. Sedangkan shif malam itu
lelaki. Lagian bekerja di hotel bukan melayani tamu tidur, pekerja di hotel
hanya melayani untuk tamu tidur. Hotel itu menyediakan fasilitas untuk
menginap.” Aku ingin sekali menjelaskan lebih detail. Agar jangan menganggap
kerja di hotel seperti bekerja di klub malam di kota metropolitan sana.
Dia menatapku lekat, entah dia mencari api kemarahan yang ingin kutumpahkan. Tapi, aku
masih pandai memoles wajah bahwa aku tidak apa-apa. Karena, sudah terbiasa
seperti ini. Disudutkan dengan pekerjaanku. Padahal aku cukup tahu, bagaimana
tempat kerjaku.
Owner dan
pemilik hotel yang cukup terkenal di kota yang diapit oleh laut ini. Beliau
menegaskan semua karyawan harus menjaga salat, tidak boleh membawa teman
laki-laki ke hotel, memakai pakaian yang sopan. Bahkan kami tidak dibenarkan
memakai baju yang ketat, celana jeans dan membuka kepala.
Ah, sudahlah. Aku tidak perlu menjelaskan kepada
mereka bahwa pekerjaanku baik-baik saja. Aku dibayar sesuai dengan pekerjaanku.
Aku juga sangat terjaga selama menjadi karyawan di sana. Aku masih membalas
tatapan Ibu Wati. Aku mengetahui namanya yang kebetulan ada di bros terpampang
di jilbabnya.
Tanpa ada lagi pertanyaan, Bu Wati bangkit menuju
kasir untuk membayar makanannya dan suami. Aku dan beberapa penumpang lain juga
melakukan yang sama.
**
Aku memperhatikan penampilan Bu Wati yang sopan dan anggun.
Sebelumnya, aku tidak terpikir sosok perempuan berkerudung lebar ini akan
menyinggung perasaanku. Apalagi aku belum pernah bertemu dengannya. Juga nampak
gaya yang berwibawa. Ah, sangat banyak kutemukan orang seperti ini di bumi Serambi
Mekah ini. Tapi, sayang. Mereka tidak bisa menjaga citra sebagai muslimah
sejati. Mereka cenderung mudah berprasangka buruk kepada orang lain juga
pekerjaan orang lain. Memang benar bahwa penampilan tidak selamanya menjadi
tolak ukur orang baik. Tapi, aku juga tidak menyalahkan penampilannya.
Setidaknya, mereka sudah berusaha menjaga auratnya sebagai perintah Tuhan.
Perjalanan kami dilanjutkan, sopir memastikan semua
naik ke dalam mobil. Saat aku berjalan menuju mobil lelaki necis tadi yang
paling tampan diantara lelaki di mobil yang kutumpangi ikut serta ke dalam
mobil. Aku tidak lengah memperhatikannya, karena posisi dia yang tidak jauh. Aku seperti tidak melihat dia membayarnya ke
kasir.
“Apa dia lupa membayar makanannya?” pikirku sendiri.
Saat semua bangkit dari tempat duduk menuju meja
kasir. Aku melihat dia masih menghabiskan makanannya. Saat aku membalikkan
badan dari kasir, aku melihat dia sudah beranjak menuju mobil. Apa dia membayar
waktu aku asyik berbicara dengan Bu Wati. Tapi, tidak juga. Dia bahkan seperti
menyimak obrolan kami.
Sopir sudah melajukan mobilnya. Sesekali, aku menoleh
ke belakang memperhatikan lelaki necis itu. Jika melihat sekilas dari
penampilan dan wajahnya dia bukan tipe lelaki macam-macam. Tapi, aku kembali
mengingat kapan dia membayar nasinya tadi.
**
Mobil l300 dari travel bersaudara memasuki kota Banda.
Konon, di kota ini Islam pernah jaya. Banyak
bukti sejarah yang bisa menguatkan pernyataan ini. Sayup-sayup suara ngaji
mulai terdengar dari masjid-masjid, pertanda waktu ashar segera tiba. Sopir
mulai mengantar penumpang satu persatu.
Aku sudah bertekad untuk salat ashar di kos. Karena
waktu ashar yang panjang. Aku tidak mengkhawatirkan waktu salat. Karena,
biasanya sopir selalu mengantar tepat waktu.
Yang pertama diantar adalah laki-laki yang kutaksir
sudah memiliki dua anak itu. Ternyata benar, sopir langsung mengantarnya ke
depan pintu rumah. Kedua anaknya menyambut kedatangan sang Ayah. Kemudian,
sopir hendak mengantar Bu Wati dan suami. Mereka baru saja pulang kampung.
Sebelum sampai ke kediaman Bu Wati. Lelaki necis tadi memberhentikan sopir
tepat di depan pasar.
“Bang, saya di sini saja!” pintanya. Sopir segera
turun, seperti biasa mengambil barang penumpang sekalian mengambil ongkos. Aku
dan beberapa penumpang lain duduk manis di dalam mobil. Aku berpikir tidak akan
lama, karena memang laki-laki itu tidak ada barang apa-apa.
Bu Wati berkali-kali mendongak ke belakang lewat
jendela mobil. Dia gelisah ingin segera sampai ke rumah. Akupun akhirnya melakukan
hal sama seperti Bu Wati. Karena sudah hampir sepuluh menit. Aku mendapatkan bang
sopir berdiri di belakang mobil. Dia menatap jauh ke lorong pasar yang di
depannya. Pasar itu tidak begitu ramai, hanya kedai-kedai kecil. Sepertinya
tidak ada pedagang yang menginap di
sana.
Beberapa menit kemudian, sopir masuk ke dalam mobil.
Aku mendapatkan wajah kesal di sorot matanya.
“Orang tadi nggak bayar ongkosnya, Bang?” tanya salah
satu mahasiswa yang duduk di belakang kursi Bu Wati.
“Enggak, saya sudah yakin dia nggak akan balik!” sahut
sopir sekenanya.
“Adik ganteng tadi nggak bayar?” tanya Bu Wati.
“Iya, Kak. Sudah biasa seperti ini,” sahutnya lagi.
“Saya dari sejak tadi sudah memperhatikan
gerak-geriknya. Dia nggak bayar nasi juga tadi di warung!” seru suami Bu Wati.
Deg. Rupanya bukan aku saja yang memperhatikannya. Aku
hanya mendengar tanpa ikut nyambung.
“Ya ampun ganteng-ganteng penipu!” sahut Bu Wati lagi.
“Saya, Kak. Pernah lebih ganteng dari dia yang nipu
saja. Pernah perempuan cantik dan terlihat kalem banget. Jilbabnya besar,
seperti jilbab kakak pakai. Tapi, dia menipu saya dengan cara yang cukup cerdik,”
sopir itu bercerita dengan santai. Aku yakin dia tidak sedang berbohong.
“Kadang, Kak. Saya ini berpikir, orang-orang sekarang
tidak bisa kita nilai dari penampilannya. Karena, banyak orang-orang licik berselimut di
balik kerudung besar, gamis lebar dan sorban di kepala.” Sang sopir seperti
sedang menumpahkan uneg-unegnya.
Semuanya terdiam, sopir ini memang nampak santai
dengan jeans dan kaos biasa. Tapi, sudah berkali-kali aku naik mobilnya. Dia
selalu menjaga salat. Dan akhlaknya sangat santun.
“Yang kita sayang apa. Orang-orang yang benar-benar
baik, menjaga diri, menjaga kewajiban, menjaga akhlak. Justru rusak citranya
gara-gara satu dua orang yang biadap seperti barusan!” serunya barusan.
Aku terdiam, yang lain pun terdiam. Ikut merasakan
kekecewaan yang dihadapi oleh bang sopir. Karena bagaimanapun, dia harus
membayar storan ke travel, isi bensin, makan dan kebutuhan lain.
“Tega sekali lelaki itu! Semoga murah rezeki abang
sopir ini!” lirihku dalam hati.
Pukul 16:45 WiB aku tiba di kos. Setelah menurunkan
barang. Lalu membayar ongkos. Aku lebihkan dua puluh ribu. Sehingga ongkosnya
genap seratus ribu.
“Terimakasih, Dek. Semoga murah rezeki dan tetap
menjadi pribadi baik!” seru abang sopir lalu naik ke dalam mobil. Aku menatap kepergian
lekat hingga hilang di ujung gang.
Hari ini, adalah hari yang berbeda dari hari kemarin.
Dengan pengalaman yang cukup besar aku dapatkan. Tidak selamanya yang bagus
penampilannya itu baik. Tapi, tidak semua yang berpenampilan rapi dan bagus itu
tidak baik. Ya, itulah kesimpulan yang aku dapatkan dari perjalananku selama
empat jam.
---



Komentar
Posting Komentar