[Sebuah Cerpen] Pedulang Cilik

Pedulang Cilik
Oleh : Deva Risma

Matahari sudah berad di atas ubun-ubun. Seorang anak berusia sepuluh tahun berjalan dengan langkah tenang sambil menjinjing sebuah baskom kecil. Di belakang pungkungnya menempel sebuah alat medulang emas. Jika kita perhatikan sekilas mirip seperti cangkang kura-kura. Karena  indang  yang diikat di pungggungnya berukuran besar. Lelaki kecil itu berjalan dengan langkah cepat. Tanpa memikir apa-apa, selain bagaimana mendapatkan emas lebih banyak. Dia akan mendapatkan tanah yang hitam lekat berbentuk lumpur. Lalu, setelah dibersih akan muncul kilauan emas murni yang menempel di dasar indang.

Defrianda, biasa orang memanggilnya Yanda. Seorang bocah kecil yang harus menaggung hidup keluarganya. Ibunya masih muda tetapi sudah sakit-sakitan sejak sebelum Ayahnya pergi entah kemana setahun yang lalu. Yanda memiliki dua adik yang masih kecil, berumur enam tahun dan delapan tahun. Mereka bertiga hanya selisih dua tahun. Kemiskinan telah menyelimuti keluarganya sejak pertama kedua orang tuanya membangun biduk rumah tangga.

“Yanda! Mau kemana?” panggil seorang perempuan paruh baya.

“Iya, Nyak Wa . Rencana mau ke baico di ujung desa. Dengar-dengar di sana lagi bagus rezekinya,” sahutnya di bawah terik. Sekilas orang memperhatikan hanya giginya yang nampak putih. Sedangkan tubuhnya dibekap oleh indang yang mirip seperti cangkang kura-kura.

“Yang benar Yanda? Nyak Wa ikut juga kalau gitu,” perempuan tersebut langsung masuk ke dalam rumah.  

Yanda terus berjalan menyusuri jalan desa yang berbatuan. Berharap dia bisa membawa seperempat gram emas sore nanti. Dia bertekad jika belum mendapatkan seperti tekadnya, tidak akan pulang. Karena di rumah sudah ada barang seperempat gram emas hasil dua hari yang lalu. Jika dia bisa mendapatkan seperempat gram lagi. Maka besok dia bisa menjual ke pasar. Seperdua gram emas sudah cukup untuk membeli obat Ibunya juga membeli bahan dapur yang sudah menipis. Pikir Yanda kecil. Dia tidak bekerja untuk membeli mainan atau baju baru. Tapi, untuk kebutuhan yang seharusnya ditanggung oleh Ayahnya.

Setelah berjalan hampir setengah jam, peluh bercucuran membasahi kaos lusuh yang menutupi tubuhnya. Semangatnya menggebu-gebu saat melihat para pedulang lain mengambil tanah yang diberikan oleh alat berat secara cuma-cuma kepada para pedulang. Masyarakat kecil yang sedang mengalami krisis ekonomi di tengah pandemi sangat bersyukur atas adanya tambang emas yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Para pemilik tambang di dearah yang terisolir ini memberikan kesempatan mencari rezeki secara gratis di lokasi mereka.  Bahkan Yanda kecilpun sangat merasa tertolong dengan adanya tambang di sekitar desa yang sanggup dijangkaunya.

Tanpa menggunakan sepatu karet seperti yang dipakai para pedulang lain. Tanpa sarung tangan dan baju yang panjang lengan. Yanda bergabung bersama para pedulang emas lain, yang rata-rata orang dewasa. Dia bergerak dengan cepat memasukkan tanah yang diberikan oleh baiko lalu medulangnya dengan piawai. Dia memutarkan indang dengan professional, bahkan dia sudah sangat mengenal bagaimana tanah yang mengandung emas. Kadang-kadang dia harus berhimpitan dengan para pedulang dewasa waktu mengambil tanah yang dituang oleh paket baiko.

Sudah sepuluh kali dia medulang emas tapi sedikit sekali yang dia dapatkan. Tidak seperti yang dia dengar dari para pedulang emas lainnya tadi pagi, saat di pergi ke sekolah. Dia terduduk di atas tumpukan batu koral yang sudah menggunung. Kedua tangannya menopang ke belakang. Yanda memperhatikan orang-orang di bawah sana mengambil tanah yang dominasi batu-batu seukuran telunjuk kaki dan pasir yang hitam. Orang-orang di bawah sana seperti tukang bangunan yang sedang mencor dinding rumah. Mengambil tanah yang berat itu lalu membawa ke tempat lain untuk didulang. Lalu kembali lagi, begitu seterusnya dilakukan berulang-ulang. 

Jika diperhatikan sekilas. Tanah seperti itu mengandung emas, tapi kenapa sedikit sekali biji emas yang tinggal di dasar indang. Pikir Yanda seorang diri.
“Bagaimana aku membeli obat Ibu jika hari ini tidak dapat emas?” dia bertanya-tanya sendiri.
Lalu tercenung lagi.

“Kalaupun emas yang kemarin dijual hanya cukup  beli buat obat Ibu tapi tidak cukup untuk beli bahan dapur yang nyaris tidak ada apa-apa lagi,” pikirnya lagi.

Yanda medongak ke langit, matahari masih tersenyum ramah pada bumi. Seharusnya dijam tersebut, Yanda sedang istirahat di kamarnya. Karena baru pulang sekolah. Ah, Yanda tidak pernah merasakan tidur siang semenjak kepergian Ayahnya.  Semenjak maraknya tambang emas di kecamatannya, Yang kerap menghabiskan waktunya setelah pulang sekolah langsung bergerak ke lokasi tambang yang bisa dijangkaunya dengan berjalan kaki. 
Yanda menautkan alisnya, sejenak dia berpikir lebih keras.

“Jika hasil mendulangnya sedikit hanya dua atau tiga keping dalam satu indang. Jika dikali 50 dikali 3 lembar keeping biji emas. Ada juga 150 keping biji emas. Berati aku harus medulang lebih banyak agar bisa mendapatkan lebih banyak emas. Ya, aku harus medulang lebih banyak dan lebih cepat agar bisa terkumpul banyak biji emas,” pikir Yanda seorang diri. Lalu seraya bangkit mengambil alat dulangnya dan baskom. 

Yanda kembali bergabung dengan para pedulang lain. Tanpa melirik kiri kanan dia terus bergerak cepat memasukkan tanah ke dalam baskom lalu membawa ke dekat kolam dan medulang di sana. Setelah selesai satu indang, dia bangkit lagi dengan gerakan cepat mengambil tanah dan medulangnya dengan cekat. Yanda terus mengulang pekerjaan yang sama hingga matahari tenggelam. Tanpa beristirahat sekalipun. Tak terhitung berapa kali sudah dia mengulang pekerjaan yang sama.

Suara mesin pembangkit air ke arah asbuk, suara mesin baico terus bersahut-sahut. Matahari sudah tenggelam, sebagian para pendulang sudah bersiap-siap untuk kembali pulang keperaduaanya.  Yanda masih merasa emasnya masih kurang, dia terus menggerak tubuhnya mengambil tanah lalu medulangnya lagi.

Saat dia asyik memutar benda yang terbuat dari kayu itu. Seorang laki-laki tua juga pendulang di sana, berjalan cepat di belakangnya.  Tempat dia meletakkan sebuah toples kecil yang berisi pasir hitam yang berisi biji-biji emas yang didapatkannya hari ini. Tanpa sengaja lelaki tua itu tersandung dengan toples Yanda. Sehingga toples itu terplanting seperti bola ke depan Yanda. Yanda terkesiap melihat toplesnya mengapung di dalam air di depannya. Matanya membola, batinnya meringis. Betapa lelah dia mendulang setengah hari, tapi kini toplesnya telah mengapung di kolam yang entah berapa meter kedalamannya. Tanpa ada tutupnya lagi. Dia sangat yakin, biji-biji emas yang dia kumpul sejak siang tadi sudah berada di dasar kolam yang keruk oleh baiko dari pagi.

Dia terduduk lemas, tanpa ada sepatah katapun. Matanya berkaca-kaca. Lalu laki-laki tua itu mendekatinya. 

“Nak Yanda, maafkan Bapak. Bapak tidak sengaja!” ucap Pak tua itu. Yanda menggangguk pelan. Yanda tahu, pak tua yang di sampingnya kini memang tidak sengaja menendang toplesnya. Apalagi kalau sudah hampir gelap seperti sekarang, matanya sudah agak rabun. Dia menyesal kenapa begitu ceroboh meletakkan toplesnya di jalanan. 
Seorang perempuan paruh baya mendekati lelaki tua dan Yanda. 

“Loh itukan toplesmu Yanda?” tanya dia sambil menujuk ke dalam kolam.

Yanda mengangguk pelan. Pak tua segera menjelaskan kronologisnya.

“Saya tidak sengaja menendang toples nak Yanda!” seru Pak tua dengan wajah menyesal.

“Astaghfirullah, Pak. Yanda sudah capek-capek mendulang seharian!” ketus perempuan tersebut.

“Saya nggak sengaja, Bu.” Pak tua semakin membuat wajah menyesalnya.

“Bapak gantilah emasnya Yanda!” seru perempuan itu dengan kesal.

“Ta-tapi saya butuh emas ini….”ucap Pak tau itu lalu terhenti.

“Bapak nggak kasian sama Yanda. Dia anak kecil, Pak!” pekik perempuan itu lagi.

“Sudah, Bu. Nggak apa-apa, Yanda tidak menyalahkan Kakek ini. Sudah bukan rezeki saya,” sahut Yanda.

“Tapi, Nda. Kamu sekarang sudah nggak punya emas lagi?” sahut Bu wati lagi karena merasa kasian sama Yanda.

“Nggak apa, Bu.” Yanda segera beranjak dari bibir kolam untuk mencari kayu. Kedua orang dewasa itupun bubar.

Yanda mencari kayu untuk menarik toplesnya yang hanya berjarak satu meter dari bibir kolam. Setelah berhasil menarik toples kosongnya. Dia menatap ke ufuk timur, syafak merah nampak menghiasi langit. Orang bilang itu sunset, Yanda memincing matanya ke ufuk timur, seakan matahari telah bersembunyi di balik pepohonan yang meranggas itu.  Semakin gelap, semakin kabur pandangannya. Bukan matanya yang kabur, tapi ada air yang sudah berdesakan di dalam pelupuk yang hendak mendarat di pipinya.

Pikirannya kembali melayang ke kamar Ibunya. Stok obat yang harus diminum ibunya sebagai penderita asma hanya tinggal beberapa butir. Cukup untuk malam ini. Dia harus membeli obat Ibunya besok pagi. Kemudian pikirannya kembali menjelajahi dapur. Hanya ada beras di toples, minyak makan sudah kosong dalam  botolnya, garam, bawang, cabai, bahkan ikan asin dan telur juga sudah habis. Seharusny besok dia bisa membelanjakan keperluan dapur agar adik-adiknya bisa makan dengan lauk.  Pikirannya semakin kalut, air mata sudah tidak mampu dibendung lagi. Sebutir bulir bening meloncat sempurna dari pelupuk mata. Secepat kilat dia menghapusnya.

“Aku anak laki-laki, pantang sekali menangis untuk masalah semacam ini,” pikirnya seorang diri.

“Aku harus mendulang lagi, kali aja akan dapat lebih banyak,” Yanda membantin sendiri. Seraya menuju ke dekat tanah yang diberikan orang baico. Hanya ada beberapa lagi orang di sana yang masih medulang. Yanda kembali melakukan hal yang sama, mengambil tanah lalu medulang lagi dengan teliti, memasukkan ke dalam toples. Hingga  baico berhenti, karena sudah waktunya salat magrib. Para pekerja baico sudah kembali ke kemah. Yanda seorang diri masih terus medulang dengan bantuan lampu sorot baico.

Malam telah membungkus bumi dengan gelap. Orang-orang yang bekerja di siang hari telah pulang ke rumah untuk beristirahat. Tapi, ada satu tulang punggung keluarga yang terus berpacu mencari nafkah untuk keluarganya. Yanda badannya ringkih, dia tidak membawa bekal apa-apa dari rumah selain sebotol air.
Setelah bekerja hampir sembilan jam. Yanda kecil sejenak beristirahat meneguk air putih yang dibawanya dari rumah.  Kemudian membersihkan semua hasil yang didapatkan hari ini dengan hati-hati.

“Sepertinya masih kurang,” pikirnya seorang diri.
Beberapa orang pedulang sudah datang lagi untuk mendulang di waktu malam yang cenderung sepi. Yanda kembali mengambil baskom untuk mengambil tanah. Seorang laki-laki muda datang mendekatinya.

“Hai bro, beristirahatlah tidak usah terlalu dikejar. Tubuhmu butuh istirahat!” seru laki-laki berpenampilan rapi itu. Yanda tahu, itu adalah toke pemilik baico yang berdiri bagai raksasa di depannya.

Yanda menghentikan langkah, melempar senyum kearah toke baico tersebut. 

“Kemari, bro!”pinta laki-laki  yang  menyandang minibag di punggungnya. 

Yanda mendekat. “Ada apa, Bang Firman?” tanya Yanda.

“Duduk di sini!” perintah Firman. Yanda manut saja. Lalu Firman menatapnya dengan sendu.

“Kenapa belum pulang, Dik? Inikan sudah malam. Nggak pigi ngaji?’ tanya Firman yang sedari sore tadi memperhatikan Yanda.

“Emas saya masih sedikit sekali, Bang?” sahut Yanda. 

“Coba lihat?” Firman mendongak ke toples yang dipegang Yanda. Sembari mengarahkan senternya de dalam toples.

Terlihat sejumlah keeping emas di dasar toples. Mata Firman mengarah ke wajah Yanda yang sendu.

“Tapi, ini sudah malam, Dik! Siapa namamu?” sahut Firman.

“Nama saya Yanda, Bang. Saya harus mendapatkan emas lebih banyak, minimalnya ada seperempat gram. Agar bisa menjual besok!”  jelas Yanda.

“Kamu mau beli hape ya?’ Firman menggodanya. Karena kebiasaannya anak-anak yang rajin seperti itu pasti ada maunya.

“Bukan, saya ingin membeli obat untuk Ibu juga membeli bahan dapur!” Yanda menunduk menahan tangis yang hendak meluap. Karena dia membayang wajah Ibunya yang sedang sakit di rumah.

Deg. Firman merasa teriris hatinya dengan pernyataan Yanda. Anak sekecil Yanda harus memikirkan masalah pelik sperti itu.

“Ayahmu kemana, Dik?’ tanya Firman lagi.

“Sudah hampir setahun, Ayah saya tidak pulang,”ucapnya. Dia menunduk untuk menyembunyikan tangis. Firman yang melihatnya bisa merasakan kesulitan yang dihadapi bocah di depannya. Segera dia merongoh ke dalam minibagnya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus lalu menyodorkan ke depan Yanda.

“Bro, kamu hebat. Semoga Ibumu cepat sembuh. Ini untukmu ya, sekarang pulanglah!” ujar Firman.
Yanda terkejut melihat uang yang di depannya. Semuanya uang seratus. 

“Ini untuk saya, Bang?’ tanya Yanda gagap.

“Iya ini untukmu. Sekarang pulanglah, Ibumu pasti mengkhawatirkanmu,”ujar Firman sambil menepuk pundak Yanda.

Yanda sangat terharu, bagai rezeki nomplok.  Dia menerima uang itu dengan hati lega. Karena dengan uang itu dia akan bisa membeli obat untuk Ibunya. 

“Alhamdulillah,Terima kasih, Bang. Terima kasih banyak, semoga abang mudah rezeki,’’ ucap  Yanda sambil menyalaminya.

“Saya pamit, Bang,” ucap Yanda sembari mengangkat indang  ke punggung.

“Hati-hati, bro. Berani pulang sendiri?” sahut Firman.

“Sip, berani kok!” Yanda terus berjalan menyusuri gunungan batu yang bertumpuk. Firman menatapnya dengan sendu. Hingga Yanda tenggelam dalam pandangannya.

“Inilah yang disesali dari setiap pertengkaran orang dewasa, anak-anak adalah korbannya,” ucap Firman seorang diri.


Komentar

Postingan Populer