[Sebuah Cerpen] Godaan Peng Grik
Sebuah cerpen yang kutulis berdasarkan keadaan nanggro Aceh saat ini. Alih-alih belajar dari sosok Arafat Nur :)
_____
Beberapa kali aku melirik arloji di tangan. Rasanya waktu berjalan cukup lambat. Apalagi berdiri mengantrisejak pukul delapan. Genap tiga jam aku mengantri, tapi namaku tidak kunjung di panggil.
“Sial, kenapa aku tidak terpikir sekarang tanggal muda. Bukankah hari jadwal ambil gaji pegawai negeri,” pikirku yang merasa sudah terlanjur basah. Karena seluruh waktuku akan terbuang di ruang tunggu. Padahal aku harus memburu dosen pembimbing hari ini.
Namaku dipanggil setelah menunggu lebih dari tiga jam. Aku duduk di depan petugas bank yang dibatasi oleh kaca. Di balik kaca yang bening aku mendapatkan wajah yang tak kalah bening. Jarinya tirus, lentik, kukunya dipotong rapi.
Perempuan yang tidak kutahu namanya berbicara di sebelah sana.
“Adik, lihat KTPnya!” pinta dia.
Aku mengulurkan KTP lewat lobang kaca pembatas tersebut.
“Nama desanya keren!” ucap perempuan tersebut dengan suara lembut. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Rasanya tidak menarik jika aku mengajaknya berbicara yang tidak kulihat langsung wajahnya.
Setelah mendapatkan Atm baru. Aku terburu-buru keluar hendak ke kampus. Tas yang tidak tertutup sempurna terjatuh. Semua barang-barang berhamburan di pintu masuk Bank. Satpam segera membantuku mengutip barang-barang yang berhamburan di lantai.
“Terima kasih, Pak!” ujarku pada Satpam yang telah Sudi membantu.
“Sama-sama,” jawabnya juga sambil mengulurkan sebuah senyum. Aku kembali menggerak langkah keluar dari bank.
Udara di luar yang sejak pagi lembab. Kini luapan mendung sejak pagi pun tumpah ke bumi. Aku menoleh ke luar. Rasa kesalku bertambah.
“Kenapa harus hujan,” desisku pelan.
Barrr. Petir menyambar membuat semua pengunjung terkejut.
Aku segera duduk di kursi panjang di lobi bank. Bapak tua tadi seraya duduk di sampingku. Aku masih memegang uang logam yang baru saja dikembalikannya.
Seorang laki-laki yang nampak berumur menghampiriku.
“Nak, tunggu!” panggilnya.
Aku yang merasa dipanggil segera menoleh.
“Ada apa, Pak?” tanyaku.
“Ini punyamu, Nak. Tadi mengelinding ke bawah kaki Bapak,” ucapnya sambil tersenyum. Tangannya mengulur sekeping uang logam.
“Masha Allah, Pak,” sahutku tersenyum tipis padanya. Aku berpikir barang tiga detik. Aku ambil saja atau biarkan untuk bapak itu saja. Uangnya terlalu kecil jika disedekahkan. Dapat apa uang segitu. Tapi, aku merasa sangat kikir jika seribu perakpun aku ambil lagi. Akhirnya, aku memutuskan mengambilnya, bukan karena merasa rugi uang seribu receh itu dikasih ke orang. Tapi, usaha pak tua di depanku ini yang berusaha mengembalikan padaku.
“Terima kasih, Pak.” Aku mengambil uang tersebut.
“Uang itu memang receh, Nak. Tapi, tidak sedikit orang yang tergoda olehnya,” ujar Pak Tua lagi sembari duduk di sampingku.
Aku hanya tersenyum. Tidak tahu harus melanjutkan apa terhadap pernyataannya yang memiliki makna yang sarat nilai.
“Anak masih kuliah?” tanya Pak Tua lagi.
“Masih, Pak. Saya masih kuliah semester akhir,” jawabku.
“Hampir selesai ya. Jurusan apa?” Pak Tua membenarkan posisi duduknyya.
“Jurusan hukum, Pak.” Aku memperhatikan penampilannya yang sederhana. Tapi, kewibawaannya terlihat dari tutur katanya.
“Jurusan yang luar biasa. Dimana di tanganmu nanti, akan menentukan keadilan di negeri ini,” ucapnya tersenyum.
“Iya, Pak. Banyak yang mengatakan ke saya, kalau orang yang berprofesi bagian hukum. Sebelah kakinya di surga sebelah lagi di neraka,” tanggapku.
“Selama tidak tergoda dengan peng grik insya Allah akan berada di jalan yang benar,” tukas Pak Tua lagi sambil menunjuk kea rah tanganku yang masih memegang uang logam yang beliau serahkan tadi
Aku hanya mengangguk pertanda paham.
“Semua permasalahan yang ada di negeri kita ini puncanya dari peng grik. Dari sejak masa kesultanan, masa penjajahan, pasca kemerdekaan, konflik Aceh yang berkepanjangan hingga sekarang. Lahir oknum yang merusak kestabilan negeri karena peng grik, Karena ingin memiliki segepok peng grik. Peng grik itu memang tidak sedikit menggoda banyak orang,” jelasnya dengan tenang. Aku semakin menarik mendengarnya, sepertinya Pak Tua ini bukan sembarangan orang.
“Aceh pernah jaya, juga pernah terpuruk di masa penjajahan, penah diombang-ombing oleh konflik yang berkepanjangan, diombang-ambing oleh gelombang tsunami. Selama beberapa masa itu pula. Lahir orang-orang yang sibuk mengumpulkan peng grik. Bukan menyejahterakan rakyat. Tidak usah jauh-jauh, Nak kita melihat ke belakang. Sejak masa masa perdamain Aceh dengan RI yang di tanda tangani MOU di Helsingki Finlandia tahun 2005. Aceh di tetapkan sebagai wilayah istimewa yang memilki otonomi khusus. Memiliki bendera sendiri, memiliki UUPA dan berhak mengatur wilayah sendiri dengan kanun pemerintah Aceh. Andai keistimewaan tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk mengejar kembali ketinggalan Bangsa Aceh. Sungguh kita sudah menjadi wilayah yang maju. Tapi, lihat, Nak. Kita justru menjadi wilayah paling miskin di sumatera. Dari segala ranah kita tertinggal, pendidikan, keagamaan, budaya, masyarakat, belum lagi soal politik yang berbelit-belit. Kini, kita hanya menjadi bangsa yang membangga-bangakan tetua kita terdahulu yang telah syahid di medan perang melawan penjajah, raja-raja Aceh yang adil dan agamis tempo dulu,” Pak tua menyenderkan punggungnya ke kursi.
Aku melihat ada gurat kekecewaan yang dikulumnya. Aku ikut merasa miris dan malu karena selama ini tidak pernah memikirkan persoal bangsa Aceh saat ini. Tapi, aku bisa apa? Aku belum melakukan apa-apa . Padahal tanah Aceh telah membesarkanku hingga usiaku kepala dua.
“Lihat ini?” Pak Tua menunjukkan halaman Koran. Aku memperhatikan dengan seksama berita yang tertulis di sana. Gedung putih milik Wali Nanggroe menjadi tempat pra-wedding.
“Apa yang dapat disimpulkan?” tanya Pak Tua itu.
Aku terdiam, karena aku tidak tahu untuk apa gedung tersebut di bangun? Jika sebagai istana wali Nanggroe, kenapa gedung itu kosong tidak berpenghuni? Bahkan aku sendiri tidak tahu apa funsi wali naggroe itu sendiri.
Pak Tua tadi memperhatikanku lagi dengan seksama. Beberapa saat kemudian, beliau menunjukkan halaman Koran yang lain. Di sana tertera sebuah keluarga yang rumahnya sangat kumuh di pinggir sungai. Aku merasa prihatin dengan penmapakan gambar. Hanya sepetak rumah dari papan yang nampak berumur dan berlantai tanah. Listrik di cangkokkan dari tetangga. Miris!
“Aceh sudah damai sejak 2005, dana otsus tidak sedikit. Tapi, masih ada rumah masyarakat semacam ini, Nak. Aceh sebenarnya kaya, kaya hasil alam kaya juga dana segala dana dari pemerintah pusat sebagai daerah otonomi. Tapi, gagal pengelolaannya. Inilah maksud Bapak, Nak. Kita tidak kekurangan orang pintar. Tapi, kekurangan orang jujur. Lebih tepatnya, kelebihan orang-orang yang suka mengumpulkan peng grik.” Pak Tua menegakkan punggungnya.
“Gedung-gedung untuk tempat tinggal orang-orang besar di Aceh dibangun dengan megah, Tapi masih ada rumah rakyat seperti ini,” Pak Tua menunjukkan lagi gambar di Koran.
“Nak, kalau nanti sudah bekerja di lembaga pemerintahan, semoga tidak tergoda dengan peng grik ya. Sekarang nasip Aceh tergantung di tangan-tangan kalian yang masih muda, Nak. Akan kalian kemanakan Aceh ini. Kalian jual lalu nanti tinggal di negeri orang. Up to you’’ katanya sambil tertawa lepas.
Akupun ikut tertawa lepas. Meskipun pernyataannya dari tadi membuat hatiku tersayat. Betapa kayanya negeri ini, tapi kemiskinan terus meningkat. Betapa banyaknya akademisi yang menyandang gelar Prof, Doktor, P.Hd, Master, Sarjana tapi kualitas pendidikan juga masih tertinggal. Betapa megahnya Aceh dengan gelar serambi mekkah tapi kemaksiatan merajalela. Sungguh kasihan bumi Aceh negeri para pahlawan. Yang pernah diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Tapi, kini sudah kehilangan jati diri.
“Bye the way, namamu siapa, Nak?” tanya Pak Tua itu dengan gaya anak muda sekarang.
“Zahra,” jawabku spontan.
“Nama yang indah, semoga nanti menjadi orang yang hebat seperti Fatimah Azzahra, yang tidak pernah tergoda dengan peng grik,” katanya sambil tersenyum sumringah. Lalu beranjak meninggalkanku. Aku berdiri di tempat melihat beliau menuju mobilnya.
“Kenapa aku tidak menanyakan namanya?” pikirku. Aku telat sadar, mobil exspandernya telah pergi meninggalkan perkarangan Bank. Hujan telah reda, aku mengangkat langkah untuk ke kampus meskipun sudah telat. Pikiranku terus memikirkan doa terbaik Pak Tua tadi.
“Semoga aku tidak menjadi manusia yang tergoda dengan peng grik,”pikirku seorang diri sambil melajukan motor.



Sesekali disisipi dialog bahasa daerah dong kak..
BalasHapusDan diterjemahkan ke Indonesia. Sikik aja lah tak pa