[Review Buku] Senandika Pagi Karya Shabb Muslim
![]() |
| Koleksi pribadi |
Muntaga atau Shabb Muslim merupakan lelaki asli Madura dari keluarga kiai. Sosoknya dibesarkan dalam lingkungan yang menjaga tradisi sehingga cenderung konservatif dalam pendidikan. Meskipun dia sama sekali tidak merasakan pendidikan formal. Karena kehausan terhadap pengetahuan dia mampu menyeimbangkan pengetahuan agama dan umum.
Darinya saya bertambah yakin. Bahwa ilmu agama tidak membuat kita tertinggal di era modern ini. Bahkan, sosok Shabb Muslim juga berperan sebagai konten kreator dalam menerjemahkan video ulama besar seperti Habib Umar Al hafiz, Muhammad Said Ramadan Albuti dan Habib Ali Aljufri. Semua karyanya itu bisa dilihat di Instagram pribadinya Shabb Muslim
Berawal dari Instagram, aku melihat promo buku yang sangat direkomendasikan sebagai bahan untuk refleksi diri dalam mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa. Karena harganya yang tidak terlalu mahal. Juga keinginan tahuku tentang buku ini. Karena aku tahu, ada banyak orang Madura yang alim dengan ilmunya. Bahkan mereka banyak yang merantau ke Yaman pada ulama besar Al alamah Habib Umar Alhafiz. Juga beberapa negara Islam lainnya.
Baiklah, karena di Aceh juga ada reseller. Hanya dalam tiga hari buku yang menginspirasi tersebut sudah bertengger di rakku. Mulanya, aku hanya berpikir ini tentang perjalanan pendidikannya di berbagai tempat. Ternyata salah.
Buku ini merupakan menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Kita diajak bercerita dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Melalui diksi-diksinya yang indah nan puitis. Penulis menenggelamkan kita dalam pikiran waras. Berpikir jernih tentang hidup yang sebenarnya.
Aku tersandung pada beberapa kalimat yang cukup puitis. Aku juga terpatri pada beberapa paragraf yang cukup indah dan logis.
Buku Senandika Pagi ini sangat inspiratif. Mampu menjadi panduan moral di zaman yang penuh dengan kebingungan dan simpang siur dengan Inovasi baru.
Jika ditanya, sebenarnya buku ini bahas apa sih? Buku ini membahas segala sesuatu yang bersifat universal. Penulis ingin merefleksikan kesadaran nalar dalam menyeimbangkan agama dan kemanusiaan.
Semoga bermanfaat :)



Mantap ka.. MasyaAllah..
BalasHapus