[Cerita Anak] Belajar Berkebun


Jadi kali ini aku pengen nulis cerita anak, cus baca dan komentar untuk membangun cerita ini.

Libur sekolah kali ini sangat lama, tidak seperti biasanya. Kata guruku libur sekolah kali ini karena kedatangan sebuah virus mengerikan. Virus itu bernama Corona. Liburan sekolah kali terasa berbeda. Mama juga tidak mengajak aku dan si Kakak untuk bermain ke mall, Waterboom atau ketempat wisata lainnya. 

Mama hanya mengizinkan aku dan Kakak bermain di sekeliling gang saja. Sebenarnya aku sangat bosan apalagi semua kegiatan belajarku di liburkan. Hanya belajar di rumah bersama Mama, Papa dan Kakak. 

Kakak lebih sibuk dengan telpon pintarnya setiap hari. Aku jadi bingung tidak mau mau mengajak main siapa. Tugasku setiap pagi hanya menyiram bunga. Hanya itu tugasku selain tugas sekolah yang sangat banyak. Yang harus kukerjakan sendiri. Lalu Mama memotret lembar tugas itu. Dan mengirim ke guruku di sekolah.

Untuk membuat hariku lebih menarik. Papa mengajak kami berkebun. Dengan memanfaatkan perkarangan rumah yang lumayan luas. Sebelumnya Papa sudah memagarinya halaman rumah dengan jaring-jaring agar tidak di ganggu oleh binatang.

“Besok kita belajar berkebun ya,” ujar Papa padaku dan Kakak.

“Horeee pasti seru,” sahutku.

“Besok Papa akan mengenalkan beberapa tumbuhan yang bagus ditanam di perkarangan rumah kita,” tambah Papa lagi.

“Ngapain sih Pa buat kebun?” tanya Kakak.

“Tidak lama lagi kita akan kedatangan tamu mulia. Jadi kita akan buat kebun untuk kebutuhan sayur nanti,” jelas Papa.

“Oh begitu,” ujar Kakak.

“Nah apalagi sekarang kita semua lagi libur. Lebih baik libur ini kita isi dengan kegiatan bermanfaat,” tambah Mama sambil meletakkan sebaki nampan di depan kami.

“Wah pasti seru ya Ma,” ujarku lagi.


**

Gambar dari Hello sehat


Keesokan harinya, jam tujuh kami sudah bersiap-siap dengan pakaian santai. Untuk menyemai berbagai sayur mayur.. Aku dan Kakak sangat senang.

Mama membawa segemgam bibit bayam untuk di tabur. Dan bibit kangkung untuk di tanam juga. Dan ada lagi bibit timun dan terong. Papa sangat antusias membuatkan pematangan untuk di tanami semua benih yang sudah disiapkan. 

Sedangkan kami menanam bibit itu dalam lobang yang sudah dibuat Mama. Lobang-lobang itu dibuat dengan garis yang lurus. Dan juga diantara lobang satu dan dua terdapat jarak hampir 30 cm. Kata Mama agar batangnya bisa tumbuh tanpa berhimpitan dengan batang lain.

Di sepanjang pagar ada beberapa polibag. Aku dan Kakak juga membantu Mama mengisi tanah kedalamnya. Untuk menanam kunyit, jahe, lengkuas dan cabe.

Mama berpesan agar kami harus rajin menyiram tanaman nanti. Agar tumbuh dengan baik. Karena tumbuhan juga butuh air seperti manusia.

Tak terasa matahari sudah berada diatas kepala. Pertanda siang sudah tiba. Kami baru menyelesaikan proses penyemaian bibit di kebun.  

“Pa, kapan berbuahnya?” tanyaku.

“Biarlah tumbuh dulu Nak,” ujar Papa.

“Paling lama tiga minggu kebun kita sudah hijau,” sanggah Mama.

“Wah nanti adek mau buat juice bayam ya Ma,” ujarku lagi.

“Iya Nak,” jawab Mama sambil terkekeh.

“Asiikkk,” kataku.

“Aku tidak suka bayam, suka mentimun.” Kakak datang duduk disampingku.

“Eh Kakak bayam bagus untuk kesehatan mata,” jelasku.

“Mentimun juga bagus,” sanggah Kakak.

“Semuanya yang kita tanam semuanya bagus,” ujar Papa.


**


Sebulan setelah itu, pada awal Ramadhan. Kebunku sudah bisa dipanenkan. Kami kelebihan sayur di rumah. Mama mengajak kami agar membagikan sayur untuk tetangga. Namun sayur itu tetap masih banyak laku kami membawanya ke pasar untuk di jual. Sedangkan yang lewat depan rumah selalu kami berikan sayur gratis.

Karena saat itu bulan Ramandhan. Kata Papa pahala sedekahnya dilipat gandakan. Aku dan Kakak berlomba-lomba mencari orang yang bisa di sedekahkan sayur. Agar dapat banyak pahala. Aku sangat senang bisa membagikan sayur kepada banyak orang.



                    _____



Komentar

Postingan Populer