Refleksi Tahun Baru ; Momentum Untuk Bermuhasabah Diri

Hai temans, happy new year. Apapun pergantian tahun baik tahun baru Hijriyah maupun Masehi. Kita harus menoreh sesuatu untuk resolusi ke depan yang lebih baik.
 
Hei, kurasa kalian juga sudah menulis ragam plaining yang ingin kalian capai di tahun 2021 ini. Atau menyesali terhadap 2020 yang telah lewat tapi banyak kegagalan, kemunduran yang kamu dapatkan di tahun lalu.

Teman, kamu tidak terlambat untuk kembali berjuang mewujudkan resolusimu. Marilah tersenyum pada dunia. Hentakkan kami,gigit geraham untuk menaklukkan segala macam kemalasan yang menyelimuti harimu.

Pergantian tahun terasa sangat cepat, rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun ke-17. Baru kemarin rasanya aku menginjak kaki di kota pendidikan untuk melanjutkan sarjana. Ah, rasanya baru kemarin aku memakai baju putih abu-abu. Tapi sekarang aku sudah berdiri di depan remaja berpakaian abu-abu.

 Hei, aku sudah menjadi Guru. Profesi yang sangat ku impikan sejak dulu.  Inilah salah satu resolusi sejak bertahun-tahun, aku tulis di dinding kamar, di catatan-catatan lusuh dan di ragam tempat yang pernah kusinggahi. Aku ingin menjadi guru. Guru yang baik, guru yang mendidik dengan penuh cinta. Menghapus beragam kebobrokan sistem, mengelupaskan benih kepimpinan sekolah yang diktator dan nepotisme. Terutama di tanah kelahiranku.

(Tuhan, aku ingin menjadi Guru seperti Guruku itu.) Inilah jawabanku, aku memiliki beberapa Guru yang telah mengidolakanku hingga aku bercita-cita menjadi Guru. Menurutku, menjadi Guru adalah cara agar aku bisa berubah bermanfaat untuk orang lain.

Aku menatap dinding kamar yang penuh note-note kecil yang tertempel sejak remaja, lebih tepatnya saat aku masih menjadi siswi.

Aku tidak suka kepada Guru yang hanya datang sekadar memberika catatan tapi dia tidak berusaha mendidikku agar memahami materi tersebut.

Aku menyukai Guru yang humble.

Aku tidak suka Guru yang memberikan nilai banyak tapi aku tidak menguasai sempurna pelajarannya.

Aku tidak suka Guru yang suka menghina siswanya.

Suatu hari aku akan menjadi Guru yang memberikan nilai sesuai kemampuan anak-anak. Bukan karena dia saudaraku atau orang dekat denganku.

Suatu hari, aku mejadi guru seperti Bapak Zulfahmi. Guru Matematikaku yang paling humble, penuh tanggung jawab dalam mengajar.


Itu sebagian note yang pernah kutulis di dinding kamar. Bernostalgia dengan masa menjadi siswa untuk mencapai proses mengajar yang menjiwai.

Dua semester menjadi Guru di tengah gejolak pandemi. Pasang surut mood siswa. Bahkan kerap hilang kendali. Menjadikan aku merasa tak guna. Aku belum apa-apa. Tidak ada pencapaian yang terbilang memuaskan. 
  (Gambar By : devarisma )

Rasanya, aku belum bisa mempertanggung jawabkan tiga huruf yang telah bertambah di belakang namaku sejak akhir Februari 2019.

Ah, menjadi Guru itu tidak mudah. Menjajaki otak-otak bebal yang sama sekali tidak mau berpikir tentang pelajaran itu, merupakan tanggung jawab seorang Guru. Bahkan aku belum bisa mengajak mereka serius mempelajari sesuatu. Aku menyesali diriku yang belum apa-apa.

Maka aku belum berani meng-up gambar-gambar kebersamaan bersama siswa. karena aku merasa belum berhasil menyalurkan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka, yang disebut siswa.

___
Temans, mari belajar dari ceritaku yang terasa Ambyar. Atau dari cerita kalian sendiri yang tidak kutahu. Sungguh! Aku ingin menjadi Guru yang lebih baik di mulai tahun ajaran ini.
___
Tidak harus Guru. Apapun profesi teruslah berusaha untuk menjalaninya dengan maksimal. Bertanggung jawab terhadap apa yang kita peroleh. Tidak sekadar di depan manusia bahkan di depan sang pencipta. Bahkan di sanalah nanti pertanggung jawaban yang sebenarnya pertanggung jawaban.
     (Quote by devarisma )

Waktu terus beranjak dari satu fase ke fase lain. Waktu tidak akan pernah berulang walau sedetik saja. Waktu terus berputar dan terus berjalan. Semua kebaikan berbekal dari waktu. Siapa yang menyia-nyiakan waktu, maka dia takkan dapat mengejarnya lagi selama-lamanya.

Terkadang kita terlalu absurd, berkata "Nanti, nantilah." Benar-benar nanti yang kekal hingga tetap nanti hingga selamanya.

Kadang aku iri kepada mereka yang mampu menjaga waktu dengan baik.  Sehingga banyak pencapaian yang mampu dikejar. Berikut ada beberapa tips yang luar biasa dari Dunia Karyawan untuk bekal menjaga waktu dengan baik.

Bahkan, kali ini aku kembali berbenah untuk merancang kembali resolusi kecil-kecilan untuk pengembangan diri. Seperti menjaga shalat di awal waktu, tidur dibawah jam 22:00, menulis setiap hari, membaca buku setiap hari, tidak mengonsumsi junk food,  tidak boros paket internet, lebih sering bermuhasbah diri, tidak membeli sesuatu yang tidak benar-benar di perlukan dan banyak makan wkwkwkk.

Semoga, semoga tercapai.

Hei, apa plainingmu di tahun ini? Mari bersemangat menjalaninya.

Semoga, semoga tercapai.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer