Masalah, Dihindari atau Diselesaikan?

Hai readers! 
Apakabar menjelang akhir tahun ini. Apakah kamu sedang menanti masalah baru. Atau sedang berkelit dengan masalah-masalah lama yang tak kunjung usai. Aku harap kamu sedang tidak menghindari dari masalah-masalahmu. Apalagi sampai menyangkalnya sebagai sesuatu yang salah alamat.

Kenapa?
Karena menghindari dari penyelesaian masalah merupakan upaya untuk memperbesar masalah.



"Kebahagiaan sejati akan terwujud ketika anda menemukan masalah, anda menikmatinya dan menikmati prosesnya, Mark Manson."

Waktu kuliah, aku selalu iri dengan teman-temanku. Karena mereka tidak bermasalah dengan isi dompet. Mereka tidak mengalami krisis moneter ketika akhir bulan. Juga tidak harus berpikir dari mana uang untuk membayar kontrakan selanjutnya. Karena tinggal mengabari ke orang tua, dalam waktu singkat akan ditransfer ke rekening mereka.

Teman-temanku juga memiliki multimedia yang lengkap, sehingga ketika ada tugas tidak harus meminjam punya teman. Atau mereka tidak harus berlama-lama di warnet sepertiku.

Teman-temanku juga tidak berkelit dengan IPK  (Indek Prestasi Kumulatif) karena mereka bisa menjawab semua soal ketika midtern dan final. 

Menurutku, teman-temanku lebih beruntung dari aku. Aku selalu berkelit dengan segala masalah yang klasik.

Aku harus bekerja untuk bisa membayar uang kuliah, sehingga aku tidak sempat ikut belajar bersama teman-teman. Aku juga tidak memiliki waktu untuk jalan-jalan sehingga aku terlihat ganjil dalam kawanan.

 Belum lagi, soal ketidakmampuan menjawab soal ketika ujian. Aku terpojok dengan rasa salah jurusan. Merasa aku terjebak dalam senyawa-senyawa aditif dan hukum-hukum kimia lainnya. Aku merasa skeptis terhadap jurusan kuliahku.

Bahkan, aku pernah berpikir bahwa temanku yang selalu ke kampus dengan kereta yang mewah, isi ATM yang tak pernah kosong. Setiap minggu mereka berlibur kemana saja. Aku berpikir mereka sangat bahagia.

Mereka dapat membeli buku yang bagus-bagus. Bahkan bisa memborong dalam jumlah yang banyak.

Tapi kenyataannya, mereka memiliki masalah yang lebih rumit. Yaitu konflik batin yang berkepanjangan. 
Aku pernah menganggap bahwa orang sudah menikah dengan pasangan yang dicintainya juga sangat bahagia. Ternyata setelah menikah mereka harus berhadapan dengan masalah baru. Seperti konflik batin dengan keluarga, pasangan yang cemburuan, krisis ekonomi, krisis sosial dan tetek bengek lainnya.

 Ternyata semua orang memiliki masalah. Hanya saja masalah itu diberikan Tuhan tidak sama. Atau durasi waktu yang berbeda.

Aku mulai mempelajari kehidupan Kakak kosku yang terlihat sangat bahagia. Dia sudah memiliki pekerjaan yang menjanjikan. Aku berpikir Kakak itu tidak memiliki masalah.Namun, pada kenyataan dia memiliki masalah tentang status yang tak  kunjung berubah  saat sudah memasuki usia kepala tiga.

(Dan ternyata masalah pernikahan lebih rumit ketimbang masalah tidak ada uang.)

Kita Semua Memiliki Masalah 
  (Quote by devarisma)

Tukang sapu jalanan. Setiap hari dia punya masalah. Untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lalu ada masalah yang datang tiba-tiba. Saat ada yang sengaja buang sampah sembarangan.

Awak laundry  setiap hari dia punya masalah. Untuk menyelesaikan cuciannya tepat waktu. Dalam keadaan bersih, rapi dan harum.

Guru di sekolah punya masalah, bagaimana mengatur metode pembelajaran agar anak-anak murid mereka patuh dan pinter.

Polantas (Polisi lalu lintas) juga punya masalah. Bagaimana cara agar tidak ada yang melanggar lalu lintas.

Seorang Ibu rumah tangga, dia punya masalah. Bagaimana membuat rumahnya selalu rapi dan bersih. Masakannya selalu dinikmati oleh suami dan anak.

Seorang pengusaha, juga punya masalah bagaimana mengeluarkan inovasi baru yang laris dipasaran.

Pegawai negeri sipil mempunyai masalah, TC dipotong, jam kerja bertambah, kebutuhan semakin besar.

Anak-anak juga punya masalah. Dia harus mengikuti setiap aturan orang tua dan Guru. Solusinya , mereka harus mengikuti masalah itu.

(Bisakah kita melihat masalah dalam konteks yang lebih sederhana?)

(Ah, banyak orang tidak bisa sesederhana itu. Menanggapi masalah, lalu  mencari jalan keluarnya. Juga dinikmati prosesnya.)

**

Tanpa aku sadari, saat aku lelah dan mengurutu nasip. Aku mencoba menjalani dengan sabar dengan tenang. Aku mengikuti saran dari para guru dan teman-teman. Aku harus menyelesaikan masalahku. Aku harus semangat dengan hari-hariku, yang tak biasa bagi orang lain.

Aku memperkecil frekuensi mengeluh, level angan-angan yang konyol, harap yang tak berujung. Dan aku mencoba membuka petuah lama, hiduplah seperti air yang selalu memberikan manfaat ke seluruh penjuru negeri. Mencoba berpikir bagaimana mencari kebahagiaan yang hakiki, tujuan hidup yang hakiki, jati diri yang sebenarnya.

(Tidak mengapa tidak menjadi orang terpandang, elit, gagah diatas podium. Tapi, kamu adalah pelaku yang baik dibalik layar.)
Aku mulai tersenyum saat mendorong sepeda motorku di atas jembatan Krueng Cut. Aku mulai tersenyum saat sepeda motorku benar-benar lumpuh total. Sehingga aku harus berjalan kaki ke kampus, meminjam kereta teman, naik kendaraan umum. Aku mulai tersenyum saat aku berdesak-desakan naik labi-labi. Menungguhya berjam-jam sambil menenteng ransel. Dan sebelumnya itu benar-benar menyebalkan.

Aku mulai tersenyum saat orang-orang yang dicintai pergi jauh meninggalkanku. Dan mereka tak pernah kembali selamanya. Aku mulai tersenyum saat terjadi penolakan-penolakan yang menyebalkan. Aku mulai menikmati sakit akibat ketidak berpihak takdir padaku.

Saat itu, aku sangat menikmati proses. Saat itu hatiku mulai lapang, tenang tanpa menyalahkan orang lain. Saat itu pula kebahagiaan menyelimuti hari-hariku.

Saat itu pula, aku merasa lebih bahagia. Dan kebahagiaan yang hakiki saat aku mampu menyelesaikan semua masalahku dengan baik.

 Aku bisa tertawa lepas dibalik lemari tempat aku bekerja, menikmati nasi putih dengan campuran cemilan tik tak. 

Lihatlah Masalah Sebagai Anugerah

Jika banyak orang hari ini dapat tersenyum saat menikmati proses masalahnya selesai. Kenapa kamu harus bermuka tegang, meninggikan suara, mengkhianati kenyataan apalagi sampai menyalahkan orang lain. 

Anggaplah masalah adalah proses menuju lebih baik. Dengan masalah kita menjadi lebih terarah lebih bijak untuk hari esok.

Jangan beranggapan bahwa hanya kamu yang memiliki masalah besar. Sedangkan orang lain tidak.
Tentu ini argumen yang keliru. Karena setiap dari kita terlahir dengan ragam masalah.

Lihatlah bagaimana Tuhan telah mengajariku banyak hal lewat masalah.

Mungkin, aku tidak akan bisa mendedikasikan diri seperti sekarang di kampung halaman. Jika aku berhenti dan tidak mau menyelesaikan masalah keuanganku saat kuliah.

Mungkin aku juga tidak bisa membuat orang tua tersenyum. Saatku memilih tidak menyelesaikan masalahku, saat aku merasa aku salah jurusan kuliah

Seandainya, aku kemarin menolak untuk menyelesaikan masalah hatiku. Mungkin hari ini, aku tidak bisa tersenyum saat melihat Si Dia menggendong anak. Atau aku takkan pernah mampu untuk berkata "Barakallah".

Aku sangat bersyukur, pernah menjajakan kuliner dipinggir jalan untuk mencari uang jajan, menjual barang di emperan toko, menjadi guru privat di rumah-rumah, menjadi buruh part time di toko-toko bahkan menjadi tukang jemput anak orang.

Aku bersyukur pernah menjadi orang yang konyol. Berlari-lari mengejar labi-labi dan transpotasi umum sambil menenteng barang-barang, memakai baju gelap, memakai kaos warna-warni, baju kedodoran, membeli barang diskonan, berlama-lama ditoko buku untuk membaca buku gratis, bahkan memakan mie yang sudah membesar seperti anaconda ditengah malam. 

Karena disini aku bisa mengatakan pada semua orang bahwa aku pernah keluar dari zona nyaman demi sebuah pengalaman positif di hari ini.

Karena semua tindakan yang pernah kulewati adalah pembelajaran yang tak terhingga untuk aku mensyukuri dan lebih bijak menghadapi kenyataan hidup.

(Tentang rasa yang absurd!)

Aku juga merasa bersyukur menjadi orang pencinta sejati, tidak muluk-muluk, bukan pemilih, dan tidak obral dalam bahasa cinta. Aku juga mampu memanage rasaku untuk tidak berjalan terlampau jauh hingga aku tidak mengenali yang namanya mantai bersama pacar :v

Percayalah rasa ingin selalu bersama orang yang kita cintai adalah masalah. Dan menjadi lebih bermasalah ketika kita tidak bisa menempatkan diri sebagai sumber masalah. 

Bukankah ini semua pencapaian yang baik wkwkwk. 

Dengan semua masalah yang pernah bertandang, aku semakin gesit memaknai hidup. Bahwa hidup itu fatamorgana tapi harus dijalani dengan mentalitas yang nyata.

 Aku bisa setenang air saat namaku tidak ada dalam daftar yang dispesialkan. Gejolak sosial dalam masyarakat, lembaga-lembaga kecil, tindak tanduk permainan politik absurd di lembaga kerja yang kecil. Bahkan kasak kusuk penzaliman yang dilakukan orang yang merasa berkuasa. Bagiku hanya hanya secuil progres menuju masa.  Masa dia runtuh, masa dia berakhir.

Aku juga, bisa berbesar hati saat obralanku tak ditanggapi, senyumku diabaikan, harapku tidak disemangati. Aku juga tak peduli, pada orang-orang yang pandai membuat muka manis. Hahahaha karena semua itu telah aku pelajari jauh-jauh hari.

Hanya saja, aku memilih bersikap bodoh amat. Karena itu hanya masalah yang harus diselesaikan 🤗

Kita semua punya prinsip, seperti tidak ingin menjadi pencundang dan penjilat hanya demi lembar nominal rupiah. Maka itu masalah, saat kita mengambil sikap dan prinsip.

Hidup tidak cukup dengan berkhayal, seperti halnya fiksi dia harus memenuhi standar logika. Hidup tetap harus berlanjut apapun masalahmu dan seberapapun besarnya.

Maka, mari menanggapi masalah kita dengan bijak. Untuk memetik 'itibar dihari esok. Apa kata Mark Manson memecahkan masalah adalah kunci menuju bahagia.


Note: tulisan ini sebagai ajang menulis #menulis30hari


 

Komentar

Postingan Populer