Pendekar Lhok Kuala

Di sudut rumah terlihat seorang lelaki renta termenung di atas kursi rotan yang usang. Wajahnya teduh namun ada kesedihan yang sangat mendalam di rasakannya. Sekali-kali bibirnya mengucap  istighfar, setelah itu terdiam bahkan bahkan terkadang air mata membasahi wajah tuanya. Rumah itu memang sangat sunyi karena hanya tinggal dua sejoli yang sudah merajut kasih mengayuh bahtera rumah tangga selama 42 tahun. Anak pertamanya sudah menikah dan memiliki rumah sendiri dan anak terakhir mereka masih mengabdi di sebuah dayah tempat iya menggarap ilmu agama. Pasangan ini hanya memiliki 3 orang anak, sedangkan anak keduanya sudah pulang kepangkuan Tuhan beberapa tahun silam.

Bapak Harun dan Ibu Asiah hidup dalam berkecukupan, pekerjaan sehari-hari sebagai pekebun dan bercocok padi di sawah. Hasil dari kebunnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan mengirim anaknya ke pondok pesantren. Ketiga anak mereka di titipkan ke dayah namun perbedaan usia mereka yang jauh membuat mereka sedikit ringan dalam memondokkan anak-anaknya.

Akhir Ramadhan tahun 1999 membuat sosok Bapak harun dan Ibu Asiah terpukul. Kontak senjata itu terdengar langsung oleh mereka tanpa diketahui siapakah yang di tembak kala itu. Ramadhan terakhir itu meninggalkan kesan pilu terdalam, bahkan ibu Asiah masih menyiapkan bukaan lebih untuk putranya yang akan pulang sore itu.
"Teungku Achek sore ini akan pulang berbuka dengan kita," ujar ibu Asiah pada cucunya.
"Kapan nek Teungku Achek sampai?" tanya cucu kecilnya.
"Sebentar lagi Teungku Achek berlabuh dengan sampannya ke teupin (Red Aceh)"
tegas ibu Asiah pada cucunya.

Pada Ramadhan terakhir itu semua anak dan cucu bapak Harun dan Ibu Asiah berbuka bersama di rumah petuanya. Tentu mereka juga menanti kepulangan salah satu personil keluarga mereka yang pergi pada Ramadhan ke tiga. Sosok Herman di nanti kepulangannya di ramadhan terakhir itu.

Jadwal buka puasa hampir tiba namun Herman belum jua tiba. Sebelum bedug berbunyi terdengar kontak senjata yang sontak mengejutkan penduduk desa. Apalagi Bapak Harun dan keluarga kontak senjata terdengar di seberang sungai di samping rumah yang hanya beberapa meter jaraknya. Cemas merajai mereka, senapan itu sangat memecahkan suasana bahagia buka puasa. Mereka hanya meneguk beberapa tegukan air tanpa selera mencicipi segala hidang lain. Hati Pak Harun dan Ibu Asiah kian gelisah namun tidak tahu bagaimana menjelaskan. Mungkin bathin mereka sebagai orang tua telah merasakan bahwa herman telah direnggut nyawa oleh peluru yang menembus jantung hatinya.

Keluarga pak Harun melaksanakan shalat magrib berjamaah. Sebelum rakaat kedua sudah terdengar bunyi sepatu menginjak lantai rumah pak Harun. Dari belakang juga terdengar dobrakan pintu secara kasar. Cucu pak Harun yang paling kecil terperangah melihat beberapa personil TNI sigap dengan sepatu dan baju loreng-lorengnya  sambil mengapit senjata Minimi dalam remang-remang karena saat itu belum ada aliran listrik di desa itu. Sebagai penerang penduduk menggunakan Panyoet Culoet (Red Aceh). Prajurit itu mendekati putri balita itu, sambil mengelus kepalanya. Dengan beraninya cucu pak Harun bertanya duluan.

"Kenapa bertamu Magrib -Magrib?" tanya gadis kecil itu.
"Om mau jumpa Bapak?"jawab prajurit TNI.
"Om buka sepatu kalau masuk rumah!" Cucu pak Harun yang masih balita itu menegaskan personil TNI yang masuk ke rumah kakeknya tanpa membuka alas kaki.
Akhirnya prajurit itu hanya tersenyum mendengar celoteh dengan penuh keberanian oleh cucu pak Harun itu. 

Masa konflik tidak mudah orang Aceh  berani berbicara lantang dengan TNI. TNI di mata rakyat Aceh khususnya masyarakat pendesaan bagaikan malaikat maut yang sigap mencabutnya, atau sekedar menghajar hingga babak belur. Namun cucu kecil pak Harun sangat berani mengajukan protes pada TNI. Dari  serambi rumah, terdengar jua beberapa personil lain sedang mengotak atik kamar kamar di rumah pak Harun. Keluarga pak Harun memang menjadi incaran operasi TNI kala itu, karena keluarga pak Harun sebagai keluarga yang memiliki sanak family dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Apalagi, semenjak salah satu putra pak Harun bergabung menjadi anggota GAM semakin sering personil TNI mengintari rumah pak Harun.

Belum sempat membaca istighfar selepas shalat Pak Harun dan keluarga besarnya itu di arahkan menuju sebuah rumah di ujung gunung ternyata beberapa rumah di sekitar rumah pak Harun sudah dikumpulkan di situ. Mereka di jaga ketat tanpa boleh beranjak seorang pun.  Hati Pak Harun  dan Ibu Asiah kian gelisah mengingat putranya Herman. Bagaimana kalau putranya tiba di rumah sedangkan para tentara semua disini. Saat itu Herman sudah termasuk buruan TNI. Berkali-kali Ibu Asiah berbisik kepada anak pertamanya yang memangku gadis kecil nan berani itu.
"Berdoalah untuk keselamatan adikmu," ujar ibu Asiah kepada putrinya sambil menitikkan air mata.
"Iya nenek, aku selalu mendoakan paman sang pendekar Lhok Kuala," tangkas cucunya nyaring, ibu Asiah sontak terkejut dengan jawaban cucu kecilnya.
"Jaringan ribut nanti mereka dengar," tambah ibu Asiah dengan nada khawatir.
"Nek pendekar Lhok Kuala akan pulang membawa kemenangan" tambah cucu kecilnya sambil berbisik ke neneknya.
Ibu Asiah hanya membelai sicucunya yang masih kecil namun sangat berani dan kuat ingatannya. 

Pendekar Lhok Kuala  merupakan julukan buat Herman saat, cucu kecil pak Harun menanyakan kemana pergi paman ke kakeknya.
Lalu pak Harun menjawab paman pergi berperang melawan musuh Aceh.
Di sudut rumah tersebut menantu ibu Asiah dan anak bungsunya sedang di introgasi tentang keberadaan Herman putra pak Harun yang bergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada kenyataannya saat itu memang tidak ada yang tahu dimana keberadaan Herman yang sudah pergi pada ketiga Ramadhan.

Sebelumnya Herman sosok pemuda yang tangkas, berani, dan cerdas. Herman masih tercatat sebagai Santri di sebuah Dayah di Aceh Selatan. Herman sudah duduk di kelas enam di dayah tersebut. Kepulangannya dari dayah menikmati liburan Ramadhan, namun beberapa sampai di kampung, Herman  bergabung dengan prajurit GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Setelah lama diajak oleh beberapa sepupunya keponakan dari Pak Harun yang saat itu sebagai komandan GAM wilayah Barat Selatan Aceh. Komandan GAM tersebut selain alasan saudara, beliau tertarik mengajak Herman bergabung menjadi prajurit GAM juga karena dinilai Herman pemuda yang cerdas dan beriman serta dikenal dengan elitnya dengan ilmu bela diri.
Herman sosok putra Pak Harun memiliki cita-cita yang tinggi sejak kecil. Iya ingin menjadi pendekar yang berani menegakkan keadilan, berani hidup di bawah naungan agama tanpa goyah karena senjata. 

Selama menjadi santri di sebuah Dayah Aceh Selatan, Herman belajar dengan tekun tanpa pernah mengeluh dengan kiriman yang sedikit oleh sang Ayah. Saat pulang kekampung iya sering baca khutbah jum'at, hari raya bahkan mengisi majlis ta'lim. Ceramahnya yang dikenal ekstrim kala itu sering mendapat teguran dari tentara yang menetap di wilayah tersebut. Namun bagi Herman TNI bukan hal yang harus di takuti. Apalagi sikap TNI kala itu yang bersikap semena-mena terhadap masyarakat Aceh.

Konflik yang berkepanjangan di Aceh khususnya perdalaman Aceh membuat Herman ingin maju di Garda terdepan membela tanah Aceh yang telah di injak-injak oleh orang jawa terkhusus pemerintahan Indonesia. Aceh yang dulunya pernah jaya dikenal dengan berbagai peradaban, negerinya luas, rakyat yang sejahtera, rajanya yang adil di bawah naungan Islam yang kaffah. Kini setelah menjadi bagian Indonesia bangsa Aceh sudah dihargai lagi bahkan di porak poranda dengan hina oleh pemerintah Indonesia. Namun Herman tidak mempunyai apa-apa hanya mempunyai segemgam ilmu dan secupak semangat. Mungkin dengan bergabung dengan gerakan Aceh Merdeka adalah salah satu alternatifnya.

Di dayah tempat mondok Herman, liburan Ramadhan lebih cepat. Lima belas hari sebelum Ramdhan rutinitas belajar mengajar telah di liburkan. Santri yang ingin pulang kampung silahkan dan ingin menetap di dayah juga diizinkan. 3 tahun berturut-turut Herman tidak pulang menikmati Ramadhan di Dayah. Selain mengingat ongkos pulang yang kurang juga keinginannya untuk sungguh-sungguh mengulang kitab di dayah. 

Herman juga termasuk santri haus ilmu dan wawasan, kadang-kadang iya berjalan kaki menuju keramaian, untuk mendapatkan Surat khabar  guna ingin mengetahui berita terkini.
Kala itu hanya surat sebagai alat komunikasi. Berkali-kali iya mendapatkan surat dari sepupunya, panglima GAM tersebut memintanya segera pulang. Namun tekad Herman hanya akan pulang ketika ilmunya sudah memumpuni. Bukan mudah seorang komandan GAM mengirim surat kepada seorang santri harus benar-benar melalui orang terpecaya tanpa bocor diketahui tentara. Dan Herman pun setelah membaca langsung membakarnya agar tidak diketahui siapa-siapa. 

Akhirnya saat libur ramadhan tahun 1999 iya bertekad dan meminta izin pada ayahnya untuk bergabung dengan abangnda di Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Ayah mak, izinkan aneuk (Red Aceh) pergi berperang di tanggal 4 nanti bersama abangnda," pinta Herman pada kedua orang tuanya.
"Bagaimana dengan ngajimu?" Tanya Pak Harun.
"Setelah lebaran aneuk akan kembali kedayah dan jika tidak mampu lagi ayah membiayi aneuk akan mendirikan balai pengajian di woyla kemudian menikah dengan si fulanah," jawab Herman dengan nada lembutnya.
"Lalu bagaimana dengan izin Abu pimpinan dayah?"tanya pak Harun.
"Aneuk sudah meminta izin perihal keputusan setelah Ramadhan ini, alhamdulillah abu mengizinkan" jawan Herman dengan nada santun.

Kala itu adik bungsunya juga sudah mulai mondok, di sebuah dayah di Meulaboh. Herman paham juga bagaimana ekonomi keluarganya. Selain itu hajat menikah juga sudah di sampaikan kepada kedua orang tuanya dan kakak Herman satu-satunya. Herman tidak ingin berlama-lama melajang jika sudah tidak lagi didalam dayah takut terjebak maksiat. Ternyata Herman sudah menaruh hati pada seorang gadis shalihah santri wati di dayahnya. Ternyata Santri wati tersebut adalah orang Woyla tetangga dengan kecamatan Sungai Mas kediaman Herman.

Perihal menikah di apreasiasi penuh oleh pak Harun dan keluarganya.  Sebelum Ramdhan tiba mereka segera melamar gadis pilihan Herman di woyla Raya. Namun Herman juga bertekad untuk bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka, ibu Asiah sangat khawatir jika Herman bergabung dengan prajurit GAM tersebut. Namun pak harun mengizinkan karena tidak ingin mematahkan semangat putranya.

"Biarlah dia mencoba berjuang bersama abangndanya, saya berpesan agar Herman meniatkan yang baik untuk menegakkan keadilan, semoga pendekar Lhok Kuala membawa kemenangan," tutur Pak Harun pada istrinya yang sering mengkhawatirkan putranya.
Pada Ramadhan ketiga iya berpamitan pada ayah ibu dan keluarga kecil kakak tertua. Dengan ransel hitam di punggung peci bundarnya di kepala sambil menjinjing sebilah parang. Berjalan meninggal rumah kakaknya melewati jalan setapak di belantara hutan. Herman menyusuri jalan setapak itu sendirian hingga sampai kemarkas GAM di tengah Hutan.  Kakaknya memandang lirih sampai adiknya menghilang dari pandangan
di balik semak belukar itu.

Sejak saat itu keluarga mereka semakin di teror dan intogasi oleh TNI tentang keberadaan Herman namun mereka mengatakan Herman sudah balik ke dayah. Kepergian Herman yang hanya direncanakan 27 saat puasa terakhir Herman sudah kembali ke rumah. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, Herman pulang ke pangkuan Tuhan pada ramadhan terakhir. Niatnya untuk berkumpul dengan keluarga di Hari Raya tidak tersampai lagi.
Belum sempat iya menyeberangi sungai menuju rumah nya yang terletak di seberang. Sekelompok TNI telah menunggui Herman dengan salah satu temannya di semak belukar dipinggir sungai. Di saat iya mengayuh sampannya tanpa sadar sebuah peluru tajam meluncur ke punggungnya hingga sampai kejantung hati. Lalu Herman tersungkur jatuh kedalam air. Kemudian di  bawa arus sungai mas yang tajam hingga ke woyla.

Mayat Herman di temukan  di aliran sungai mas setelah  kematiannya. Mayatnya tersangkut di sebuah terowongan air yang tenang. Namun jasadnya belum membusuk hanya gigi depannya yang telah rontok mungkin terkena karang ketika hanyut, masih utuh dengan celana jeans dan sebuah singlet hitam membalut tubuhnya. Ditemukan dompet yang lengkap dengan kartu identitas dan sejumlah uang yang diberikan kakak perempuannya saat beranjak dari rumah.
Saat masyarakat yang menemukan melihat dompet dengan mudah dikenal dan langsung mengirim utusan ke kecamatan Sungai Mas pada ahli keluarga.Namun karena ketatnya penjagaan tentara juga alat transfortasi yang sulit. Baru hari kelima keluarga pak Harun mengetahui kematian Herman. Sebelumnya keluarga sudah mendapatkan khabar tentang kematian Herman namun mereka tidak menemukan mayat. Bahkan sudah di cari kesana kemari. Jenazah Herman di membumikan di desa tempat ditemukan tersebut oleh masyarakat setempat.

Pak Harun dan Ibu Asiah menelan pahit begitu mendalam di hari lebaran itu harus mengikhlas sang putra menghadap ilahi tanpa sempat dikebumikan sendiri jenazahnya. Memekak tangis di hadapan ilahi kala sunyi  di tengah gelab gulita kala insan lain sedang terlelap di Alam mimpi. Hanya pada Allah Pak Harun dan istrinya mengadu memohon diberikan secuil sabar menghadapi cobaan ini. Berkali-kali pak Harun menguatkan istrinya yang sering menangis di balik pintu menatap Sungai yang mengalir keruh. Seakan terbayang di tengah arung jram itu nampak anaknya mengayuh sampan yang hendak pulang menjumpai ibundanya.
"Sudahlah ikhlaskan putramu pulang menghadap Tuhan, dia seoramg pendekar yang telah mencapai kemenangan," ujar Pak Harun pada istrinya yang kian menangis tersedu-sedu.

Kini, Herman sudah pulang menghadap Tuhan selama 20 Tahun namun pak Harun dan Ibu Asiah masih merindukan sosok Herman putranya yang baik budi, cerdas dan sangat rajin beribadah. Di dinding rumah terpampang sebuah foto usang dalam bingkai kaca gambaf Herman sang pendekar Lhok kuala. Pak Harun dan Ibu Asiah sudah semakin renta di rumah cuma tinggal berdua. Cucunya juga sudah besar-besar mereka sibuk dengan pendidikannya di Kota rumahnya hanya akan ramai ketika hari raya  ketika semua cucu dan anaknya pulang.
(Cerita ini hasil adaptasi dari fakta hanya saja mengalami beberapa penambahan dan pengubahan nam tokoh dan tempat)
#Odop

Komentar

Postingan Populer