Autis bukan berarti bodoh hanya saja mereka butuh Cara yang berbeda
Sedang serius saya menuntun Quen membaca potongan ayat pada iqro' 4. Tiba-tiba "Bruukkkkktemmmm" pandangan saya dan Quen beralih ke lantai. Mata kami menangkap Al-Qur'an sudah jatuh tengkurap dilantai tepat dibawah kaki Si Abang.
"Astagfirullah" sembari saya menyambar Al-Qur'an yang sudah terjatuh kebawah.
Quen sudah terdiam, sedangkan Si Abang masih duduk dengan wajah cueknya tanpa bicara sepatah kata pun.
Saya menatap dia dengan tajam. Saya ingin memarahinya. Tapi dalam hati ini saya mencoba berdiskusi sendiri. Bagaimana saya menasehati anak ini. Tidak mungkin saya memarahinya seperti anak-anak normal lainnya.
Karena ini pengalaman pertama saya mengajar anak autis. Saya terdiam sejenak sambil mengerutkan kening. Agar dapat bisa mengambil tindakan yang tepat.
Mamanya sudah menceritakan kepada saya waktu pertama kalinya.
"Ustazah Si Abang ini AUTIS apa ustazah bersedia mengajarkannya?" pinta mamanya.
"Iya kak insyaAllah saya bersedia."
Bagi saya mengajar itu tidak milih-milih. Bagaimanapun kondisinya. Saya tetap bersedia jika saya punya waktu.
Setelah saya memandangnya dengan tatapan tajam hampir lima menit. Kondisi masih hening didalam ruang tamu itu. Akhirnya Si Abang tanpa membalas tatapan saya, spontan dia berkata.
"Oke-oke, fine!" sembari mencium Al-Qur'an tersebut.
Itu sebuah kata yang sering dia ucapkan. kalau dia sudah mau menyetujui apa yang disuruh.
Dalam hati saya mengucap Alhamdulillah. Ternyata dia paham kalau saya marah.
"Janji tidak akan ulangi lagi!" pinta saya dengan tegas.
"Oke-oke," jawabnya.
Seperti biasanya, anak autis sedikit bicara, sering marah-marah dan juga susah diajak kompromi.
Si Abang pun demikian saya harus mengeluarkan berbagai rayuan. Dan menjanjikan sesuatu hadiah untuknya supaya dia mau mengaji. Tidak mudah membujuknya kadang sampai setengah jam dia tidak acuh apa yang saya suruh.
Kalau memaksa dia dengan nada emosi dia akan menjerit-jerit dan suasana akan kacau mengganggu adek-adeknya mengaji.Tapi, kalau dia sudah termakan rayuan kita dia akan bersemangat membaca Alquran sampai 1atau 2 halaman.
Disitulah kadang saya merasa sangat senang.
Anak autis itu tidak bodoh hanya saja mereka butuh cara yang berbeda.
Dari seorang guru yang mencoba memberikan pendidikan terbaik untuk muridnya.
Banda Aceh, 3 Februari 2018
Semangat berkarya buk deva
BalasHapusTerima kasih ❤
Hapus